Sumbang Ide untuk Bapak Emanuel Melkiades Laka Lena
Oleh: Verry Guru
(Kasubag Kepegawaian dan Umum BPPD Provinsi NTT)
Suarantt.id, Kupang-Jika tak ada halangan, pada Kamis, 20 Februari 2025, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2024-2029, Bapak Emanuel Melkiades Laka Lena dan Bapak Johni Asadoma, akan dilantik oleh Presiden Prabowo di Jakarta. Setelahnya, mereka akan mengikuti retret kepemimpinan selama sepekan di Akademi Militer Magelang sebelum kembali ke daerah masing-masing untuk memulai tugas besar: merealisasikan janji kampanye dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat.
Tulisan ini berupaya untuk merefleksikan perjalanan panjang kepemimpinan di NTT, khususnya dalam upaya penanggulangan kemiskinan yang telah menjadi tantangan utama sejak provinsi ini berdiri pada 20 Desember 1958. Berbagai gubernur telah mencanangkan program-program unggulan dengan strategi yang berbeda, namun persoalan kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Oleh karena itu, tulisan ini juga menjadi sumbang saran bagi Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma untuk menata strategi baru yang lebih efektif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Ada Pergeseran Program?
Dari masa ke masa, setiap gubernur NTT memiliki strategi dan program unggulan dalam mengentaskan kemiskinan:
- Era W.J. Lalamentik (1958-1966): Gerakan Penghijauan dan Komando Gerakan Makmur (KOGM).
- Era El Tari (1966-1978): Program Swasembada Pangan (beras).
- Era Ben Mboy (1978-1988): Operasi Nusa Makmur, Operasi Nusa Hijau, dan Operasi Nusa Sehat.
- Era Hendrik Fernandez (1988-1993): Gempar (Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat) dan Gerbades (Gerakan Membangun Desa).
- Era Herman Musakabe (1993-1998): Tujuh Program Strategis, dengan fokus utama pada pengembangan SDM dan penanggulangan kemiskinan.
- Era Piet Alexander Tallo (1998-2008): Program Tiga Batu Tungku (Ekonomi rakyat, Pendidikan rakyat, Kesejahteraan rakyat).
- Era Frans Lebu Raya (2008-2018): Program Anggur Merah (Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera) berbasis desa.
- Era Viktor Bungtilu Laiskodat (2018-2023): NTT Bangkit Menuju Masyarakat Sejahtera dengan lima misi utama, termasuk pembangunan infrastruktur dan reformasi birokrasi.
Kini, di bawah kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wagub Johni Asadoma, lahirlah “Ayo Bangun NTT”, dengan 10 Program Prioritas:
- Dari Ladang dan Laut ke Pasar: Membangun rantai pasok efisien dari produksi hingga distribusi.
- Milenial dan Perempuan sebagai Motor Kreativitas Lokal: Meningkatkan ekonomi kreatif dan nilai jual produk lokal.
- Wisata NTT sebagai Penggerak Ekonomi Lokal: Menguatkan ekowisata dan wisata budaya berbasis komunitas.
- Sejahtera Bersama: Memastikan kepesertaan penuh BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
- Posyandu Tangguh, Masyarakat Sehat, dan Bebas Stunting: Menjadikan Posyandu sebagai pusat pemberantasan stunting.
- Sekolah Vokasi Unggulan Berbasis Potensi Daerah: Mempersiapkan tenaga kerja siap pakai.
- Jalan, Air, Listrik, dan Rumah Layak Huni: Infrastruktur berbasis partisipasi masyarakat.
- Pendapatan Daerah Naik, Pelayanan Publik Terjamin: Meningkatkan kesejahteraan ASN dan layanan publik.
- Membangun NTT Digital: Memperluas infrastruktur digital untuk akses internet yang merata.
- Ayo Bangun NTT, Kolaborasi Bersama: Mengajak seluruh elemen masyarakat membangun daerah.
Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Belajar dari perjalanan panjang NTT, ada beberapa strategi penting dalam pemberdayaan masyarakat miskin yang perlu dikedepankan:
- Fokus pada kebutuhan dasar: Upaya pengentasan kemiskinan harus berbasis pada pemenuhan kebutuhan pangan, pendidikan, dan kesehatan. Pertanian, peternakan, dan konservasi alam harus menjadi prioritas utama.
- Transformasi ekonomi: Membantu keluarga miskin beralih dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian dengan mempermudah akses permodalan, teknologi, dan pasar.
- Pemberdayaan komunitas: Masyarakat desa dan kelurahan harus diberikan peran utama dalam mengelola program pengentasan kemiskinan dengan filosofi “membangun dari apa yang ada pada rakyat.”
- Reposisi peran pemerintah dan pihak luar desa: Dari sekadar agen pembangunan menjadi fasilitator yang membantu masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program secara mandiri.
Strategi ini harus didukung dengan pendekatan berbasis komunitas, di mana masyarakat memiliki kewenangan dalam:
- Menentukan sendiri aktivitas pengentasan kemiskinan di desa mereka.
- Melaksanakan sendiri program yang dirancang sesuai kebutuhan lokal.
- Menumbuhkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana dan program.
Perlu Mekanisme Sinergi Program
Harus diakui bahwa berbagai upaya pengentasan kemiskinan di NTT belum menunjukkan hasil yang signifikan karena kurangnya koordinasi antarinstansi. Banyak program yang tumpang tindih dan berjalan sendiri-sendiri, tanpa adanya mekanisme sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan LSM.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi NTT perlu mengembangkan model manajemen terpadu berbasis pendekatan sistem. Model ini harus melibatkan semua pemangku kepentingan dengan fokus pada:
- Pengumpulan data akurat tentang kemiskinan dan potensi daerah.
- Perencanaan program berbasis data dan kebutuhan nyata masyarakat.
- Kolaborasi lintas sektor dalam pelaksanaan program.
- Monitoring dan evaluasi yang ketat untuk mengukur dampak program secara konkret.
Keberhasilan program pengentasan kemiskinan di NTT tidak hanya bergantung pada niat baik pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat. Dengan pendekatan yang lebih sinergis dan berbasis komunitas, maka upaya membangun NTT yang lebih maju dan sejahtera akan lebih nyata terasa.
Kepemimpinan Bapak Emanuel Melkiades Laka Lena dan Bapak Johni Asadoma membawa harapan baru bagi masyarakat NTT. Dengan semangat “Ayo Bangun NTT”, kita optimistis bahwa visi besar ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diwujudkan hingga ke pelosok Flobamorata tercinta.
Selamat datang dan selamat bekerja, Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur! Ayo Bangun NTT!





