Suarantt.id, Denpasar-Stereotip negatif terhadap warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di sejumlah daerah perantauan, khususnya di Provinsi Bali, menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi NTT.
Sejumlah kasus sosial yang melibatkan oknum warga NTT dan ramai diberitakan di media massa maupun media sosial dinilai berpotensi menimbulkan generalisasi yang tidak adil terhadap ribuan warga NTT lainnya yang hidup tertib, taat hukum, dan menjunjung tinggi norma serta adat istiadat setempat.
Merespons situasi tersebut, Pemerintah Provinsi NTT bergerak cepat untuk meredam dampak sosial yang lebih luas. Pada Rabu (28/1/2026), Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, didampingi sejumlah pejabat Pemprov NTT, melakukan kunjungan ke Provinsi Bali guna menyelesaikan berbagai persoalan yang berkembang sekaligus menjaga keharmonisan hubungan antara masyarakat Bali dan warga Diaspora NTT.
Dalam kunjungan tersebut, Wagub Johni Asadoma turut didampingi Plt Asisten Pemerintahan dan Kesra NTT Kanis Mau, Staf Ahli Gubernur Bidang Politik dan Pemerintahan Petrus Seran Tahuk, Kadis Nakertrans NTT Sylvia Peku Djawang, Karo Administrasi Pimpinan Setda NTT Prisila Parera, Karo Umum Setda NTT Gusti Sigasare, serta Kaban Penghubung NTT Taty Setyawati. Turut hadir pula Bupati dan Wakil Bupati se-daratan Sumba, anggota DPRD Provinsi NTT, serta para tokoh dan sesepuh Diaspora NTT di Bali.
Pada hari pertama kunjungannya di Denpasar, Rabu (28/1/26) malam, Wagub Johni Asadoma terlebih dahulu bersilaturahmi dan berdialog bersama warga Diaspora NTT di Bali. Dalam dialog tersebut, Wagub menegaskan bahwa pemerintah akan selalu hadir di tengah masyarakat dalam situasi apa pun.
“Kami hadir di Denpasar, Bali, karena situasi dan kondisi yang tidak sedang baik-baik saja. Namun fungsi pemerintah adalah tetap hadir untuk memberi solusi dan jalan keluar,” tegas Johni Asadoma.
Ia menilai perilaku segelintir oknum telah berdampak luas dan merugikan mahasiswa serta pekerja asal NTT di berbagai daerah. Bahkan, stigma negatif terhadap warga NTT disebut tidak hanya berkembang di Bali, tetapi juga mulai muncul di daerah lain seperti Surabaya dan Malang.
“Akibat ulah oknum, mulai muncul stigma negatif terhadap warga NTT. Kita tidak boleh tinggal diam. Kita harus bersama-sama menentukan langkah terbaik agar citra NTT kembali pulih,” ujarnya.
Johni Asadoma menegaskan bahwa tindakan segelintir oknum sama sekali tidak mencerminkan nilai dan jati diri budaya NTT secara keseluruhan. Namun demikian, setiap individu diaspora membawa nama baik daerah asalnya.
“Satu tindakan yang keliru dapat berdampak luas dan mencoreng citra seluruh komunitas. Karena itu, warga diaspora harus lebih bijak dalam bersikap dan berperilaku,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Johni juga memaparkan analisis situasi yang berkembang, mulai dari latar belakang permasalahan, faktor pemicu, hingga upaya mitigasi dan alternatif solusi.
Dia menekankan pentingnya menjaga harmoni antara masyarakat Bali dan warga Diaspora NTT, mengingat hubungan historis dan kultural yang telah terjalin lama antara kedua daerah.
Menurutnya, masyarakat Bali yang hidup dalam filosofi Tri Hita Karana dan masyarakat NTT yang dikenal egaliter serta memiliki solidaritas kuat sejatinya memiliki nilai-nilai dasar yang saling melengkapi. Ketegangan yang muncul lebih banyak disebabkan oleh perbedaan cara mengekspresikan nilai, bukan perbedaan nilai itu sendiri.
Untuk itu, Wagub Johni Asadoma mendorong warga Diaspora NTT agar mampu beradaptasi secara bijak dengan lingkungan setempat tanpa kehilangan jati diri budaya. Ia juga menekankan pentingnya penguatan peran organisasi dan paguyuban diaspora, pengembangan komunikasi dialogis dengan otoritas lokal, serta penguatan narasi kontribusi positif warga NTT di Bali.
Selain itu, Wagub Johni menegaskan pentingnya penertiban administrasi kependudukan bagi warga NTT yang hendak merantau ke luar daerah.
Menurutnya, pendataan yang baik akan membantu mencegah potensi pelanggaran hukum.
“Setiap warga kita yang mau ke luar daerah harus wajib lapor, baik di daerah asal maupun daerah tujuan. Ini perlu kita perkuat dengan regulasi yang tegas,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Wagub Johni Asadoma juga menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat Bali atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat perbuatan segelintir oknum warga Diaspora NTT.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat NTT, kami menyampaikan permohonan maaf kepada pemerintah dan masyarakat Bali yang merasa terganggu dan resah akibat perilaku sebagian kecil warga kami,” ungkapnya.
Sementara itu, Penasehat Rumah Besar Diaspora NTT di Bali, Ardi Ganggas, mengapresiasi kehadiran Wakil Gubernur NTT beserta jajaran di Bali. Ia berharap melalui dialog dan komunikasi yang intensif, situasi yang kurang kondusif dapat segera dipulihkan.
Dengan dialog terbuka dan sinergi lintas daerah, Pemerintah Provinsi NTT berharap harmoni antara warga Diaspora NTT dan masyarakat Bali dapat terus terjaga, serta citra NTT kembali pulih sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, ketertiban, dan kedamaian.





