Wawali Kupang Soroti Tantangan Generasi Muda di Era Digital

oleh -427 Dilihat
Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis, Buka Sidang Klasis GMIT Kota Kupang Timur ke-8 di GMIT Imanuel Kolhua. (Foto Prokompim Kota Kupang)

Suarantt.id, Kupang-Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis, membuka secara resmi Sidang Klasis Kota Kupang Timur ke-8 yang berlangsung di GMIT Imanuel Kolhua pada Rabu (10/12/25). Sidang yang diikuti para pendeta, majelis jemaat, dan perwakilan dari 35 gereja ini menjadi momentum penting bagi GMIT dalam menata arah pelayanan menghadapi beragam tantangan zaman.

Kegiatan pembukaan turut dihadiri Asisten Administrasi Umum Sekda Provinsi NTT Semuel Halundaka, Sekretaris Sinode GMIT Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, Anggota DPRD Kota Kupang Dance Bistolen, tokoh masyarakat, serta para pemimpin gereja. Wawali juga didampingi Plt Camat Maulafa dan Lurah Kolhua.

Dalam sambutannya, Serena menegaskan bahwa gereja memiliki peran penting dalam menjawab berbagai dinamika sosial, moral, dan ekonomi yang sedang melanda masyarakat. Ia menyebut sidang klasis bukan sekadar agenda rutin, tetapi ruang strategis untuk melahirkan program pelayanan yang relevan dan berdampak.

“Dunia sedang terluka oleh krisis moral, tantangan ekonomi, dan persoalan sosial. Karena itu gereja dipanggil bukan hanya kuat dalam liturgi, tetapi juga hidup dalam aksi. Iman tanpa perbuatan adalah mati,” ujarnya.

Serena juga menyoroti capaian Kota Kupang yang terus mempertahankan predikat sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia, serta penghargaan sebagai Kota Cinta Damai dan Inklusif. Menurutnya, keberhasilan ini lahir dari kerja bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja.

Namun, Serena memberi perhatian khusus pada generasi muda yang hidup di tengah derasnya arus informasi digital. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara gereja dan pemerintah dalam menjaga kesehatan mental, moral, dan karakter anak-anak muda.

“Anak-anak kita hidup di tengah derasnya informasi. Gereja dan pemerintah harus bergandeng tangan menjaga kesehatan mental, moral, dan karakter generasi yang akan memimpin kota ini ke depan,” tegasnya.

Ia berharap persidangan selama tiga hari ini mampu melahirkan keputusan-keputusan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan jemaat dan masyarakat, sehingga gereja tetap menjadi terang bagi lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, Sekretaris Sinode GMIT Pdt. Lay Abdi K. Wenyi dalam sambutannya menegaskan bahwa gereja harus menjadi komunitas pembelajar yang peka terhadap perubahan zaman, terutama isu lingkungan, HIV/AIDS, teknologi, dan etika digital.

Ketua Panitia Maxi Buifena melaporkan bahwa sidang ke-8 ini mengangkat tema: “Lakukan Keadilan, Cintai Kesetiaan, dan Hiduplah Rendah Hati di Hadapan Allah.” Ia berharap sidang menjadi ruang refleksi, evaluasi, sekaligus penguatan pelayanan gereja menuju Kota Kupang yang rukun, kuat, dan penuh harapan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.