Gubernur NTT Dorong Pemanfaatan Lahan Tidur dan Hilirisasi Pertanian Tingkatkan Nilai Tambah

oleh -941 Dilihat
Gubernur Melki Gelar Pertemuan Virtual Bersama Petani Milenial Arava International Agricultural Training Center (AICAT) Israel di Rumah Jabatan Gubernur NTT pada Sabtu, 14 Maret 2026. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mendorong pemanfaatan lahan tidur serta penguatan hilirisasi sektor pertanian sebagai strategi untuk meningkatkan produksi sekaligus nilai tambah komoditas pertanian di daerah tersebut.

Arahan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat melakukan pertemuan virtual bersama petani milenial alumni Arava International Agricultural Training Center (AICAT) Israel di Rumah Jabatan Gubernur NTT pada Sabtu (14/3/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Melki menilai NTT memiliki potensi lahan yang sangat luas, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, kehadiran para alumni AICAT yang telah memperoleh pengalaman teknologi pertanian modern di Israel diharapkan dapat memperkuat upaya peningkatan produksi pertanian di NTT.

Menurutnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia juga mendorong daerah untuk meningkatkan produksi pangan guna mendukung program swasembada pangan nasional. NTT dinilai memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam upaya tersebut.

“NTT masih memiliki banyak lahan tidur. Kita perlu membuka dan mengoptimalkan lahan-lahan tersebut untuk menjawab kebutuhan produksi pangan, baik untuk NTT sendiri maupun untuk mendukung program swasembada pangan nasional,” kata Melki.

Dia menyebut sejumlah komoditas strategis yang perlu ditingkatkan produksinya di NTT, antara lain padi, jagung, bawang putih, jahe, serta asam. Selain itu, pemerintah juga perlu mengevaluasi produksi yang sudah berjalan untuk memastikan apakah sudah mencapai tingkat optimal atau masih perlu ditingkatkan.

“Kita perlu mengecek kembali produksi yang sudah ada, apakah sudah mencapai tingkat ideal atau belum. Jika belum, maka harus kita tingkatkan dengan teknologi dan metode yang lebih baik,” ujarnya.

Melki menegaskan bahwa peningkatan produksi tidak hanya berkaitan dengan kuantitas, tetapi juga kualitas hasil pertanian.

BACA JUGA:  Didukung Pemerintah Pusat, Kota Kupang Siap Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah di NTT

Menurutnya, kualitas produk sangat menentukan nilai jual di pasar.
“Produksi harus meningkat, tetapi kualitasnya juga harus bagus. Kalau beras yang kita hasilkan berkualitas baik, tentu harganya juga lebih baik. Begitu juga dengan jagung, jahe, atau komoditas lainnya,” jelasnya.

Selain peningkatan produksi, Gubernur juga menyoroti pentingnya hilirisasi produk pertanian agar petani memperoleh nilai tambah dari hasil produksi mereka. Selama ini, menurutnya, pola yang terjadi di sektor pertanian masih terbatas pada proses tanam, panen, lalu langsung dijual tanpa melalui proses pengolahan.

“Ke depan kita harus ubah skema itu. Bukan lagi hanya tanam, panen, jual, tetapi menjadi tanam, panen, olah, kemas, lalu jual. Dengan cara itu nilai tambahnya akan lebih besar bagi petani,” kata Melki.

Ia mencontohkan produk beras yang dikemas dengan baik dalam ukuran tertentu akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan jika dijual dalam bentuk bahan mentah tanpa kemasan.

Dalam kesempatan tersebut, Melki juga menyinggung keberhasilan Israel dalam mengembangkan teknologi pertanian modern dan sistem hilirisasi produk yang efektif.

Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi bagi pengembangan sektor pertanian di NTT.
“Kita bisa belajar dari Israel yang mampu mengembangkan teknologi pertanian secara luar biasa dan menghasilkan berbagai produk bernilai tambah tinggi, bahkan dari lahan yang terbatas,” ujarnya.

Karena itu, Melki mendorong terbangunnya koneksi antara alumni AICAT dengan pemerintah daerah, kelompok tani, penyuluh pertanian, serta berbagai pihak lain untuk memperkuat ekosistem pertanian di NTT.

Dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, para penyuluh, serta para petani yang dinilai telah bekerja keras meningkatkan produktivitas pertanian di NTT hingga masuk dalam lima besar nasional.

BACA JUGA:  65,28 Persen Responden Nilai Tak Ada Kelemahan, Kepercayaan Publik Terhadap Kepemimpinan Wali Kota dan Wawali Kupang Kian Menguat

“Saya berterima kasih kepada Dinas Pertanian, para penyuluh, petani, dan semua pihak yang telah bekerja keras sehingga produktivitas pertanian NTT bisa masuk lima besar nasional,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe, menyatakan pihaknya siap menindaklanjuti arahan gubernur, khususnya dalam upaya peningkatan produksi serta kualitas hasil pertanian.

“Kami siap menjalankan arahan bapak gubernur, terutama terkait peningkatan produksi pertanian dengan memperhatikan kuantitas dan kualitas hasil produksi,” ujarnya.

Dalam sesi dialog, sejumlah alumni AICAT juga menyampaikan kondisi yang dihadapi petani di lapangan. Pendamping lapangan di Kabupaten Timor Tengah Utara, Jhorland Oleng, mengungkapkan bahwa beberapa desa binaan masih menghadapi kendala ketersediaan air, terutama untuk budidaya komoditas hortikultura seperti tomat dan cabai.

Sementara itu, pelaku agribisnis kakao dan kopi di Kabupaten Ende, Okta Bili, menyoroti perlunya peningkatan pendampingan bagi petani tanaman perkebunan berumur panjang seperti kakao dan kopi. Ia juga menilai harga komoditas di pasar masih sangat fluktuatif sehingga petani sering menghadapi ketidakpastian pendapatan.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Gubernur Melki menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan fokus pada dua hal utama, yakni peningkatan produksi dan pengembangan hilirisasi pertanian.

Selain itu, ia juga menyoroti masih banyaknya lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk lahan milik pemerintah maupun lembaga pendidikan. Ia meminta agar lahan-lahan tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan produk unggulan daerah, termasuk melalui program One School One Product (OSOP) di sekolah.

“Kebun dinas masih banyak yang kosong. Begitu juga lahan di SMA dan SMK. Kita harus dorong agar semua lahan itu dimanfaatkan untuk produksi,” tegasnya.

Menurut Melki, lahan milik sekolah, lembaga keagamaan seperti gereja dan masjid, serta aset pemerintah tidak boleh dibiarkan tidak produktif.

BACA JUGA:  Maria Messakh Gagal Berangkat ke Seleksi Pelatnas, Dispora NTT Akui Tak Terima Informasi Resmi

“Tidak boleh ada lahan yang dibiarkan tidur. Kalau soal bibit, pupuk, dan alat mesin pertanian, pemerintah provinsi siap mengupayakannya melalui dinas pertanian,” ujarnya.

Dia berharap forum pertemuan bersama alumni AICAT tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi dan mencari solusi bersama bagi pengembangan sektor pertanian di NTT.

“Saya berharap melalui forum ini kita bisa mencari solusi bersama dan bekerja dengan semangat yang sama. Jika kita terhubung dan bersinergi, maka target peningkatan produksi pertanian di NTT akan lebih mudah dicapai,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.