Suarantt.id, Kupang-Bank Indonesia bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi meluncurkan program Nusa Tenggara Timur Young Entrepreneur School (NTT YES) sebagai bentuk sinergi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan kewirausahaan muda.
Peluncuran program ini berlangsung meriah pada puncak perayaan Pawai Paskah dan diresmikan oleh Wakil Gubernur NTT, Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Ketua Umum Kadin Indonesia, Ketua Kadin Provinsi NTT, serta Ketua Sinode GMIT.
NTT YES dirancang sebagai wadah pembinaan, pelatihan, dan pendampingan bagi generasi muda NTT yang memiliki minat kuat dalam bidang kewirausahaan. Selama tiga bulan, peserta akan mendapatkan pelatihan terintegrasi, bimbingan dari pengusaha-pengusaha berpengalaman di bawah naungan Kadin, serta akses ke jaringan bisnis dan peluang pembiayaan.
Dalam kesempatan yang sama, turut disepakati kerja sama strategis antara PT Beta Moringa Indonesia, UMKM yang bergerak di bidang hilirisasi kelor, dan kelompok tani kelor GS Organik dari Kabupaten Kupang. Sinergi ini bertujuan memperkuat rantai pasok dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
“Mayoritas kebutuhan kelor di NTT saat ini masih dipenuhi dari provinsi lain akibat terbatasnya pasokan lokal, sehingga harga kelor NTT masih jauh di atas harga pasar,” ujar Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati pada Senin, 21 April 2025.
Ia menekankan pentingnya mengubah tantangan ini menjadi peluang, mengingat kelor sangat cocok ditanam di lahan-lahan kering khas NTT.
Sebagai bagian dari komitmen mendorong hilirisasi dan ekspor, PT Beta Moringa Indonesia bersama BI dan Kadin juga melaksanakan ekspor produk kelor unggulan untuk kelima kalinya. Pelepasan ekspor ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie.
Direktur PT Beta Moringa Indonesia, Andree Hartanto, menyampaikan bahwa produk turunan kelor NTT kini telah menembus pasar internasional seperti Timor Leste, Singapura, Australia, Qatar, hingga Uni Emirat Arab (UEA). “Peluang ekspor semakin terbuka, apalagi dengan kondisi geopolitik global saat ini yang mendorong negara-negara mencari sumber bahan baku baru di luar Tiongkok dan Amerika Serikat,” tambahnya.
Ke depan, sinergi antara petani dan pelaku industri ini diharapkan bisa menjadi model replikasi untuk pengembangan komoditas unggulan lainnya di Provinsi NTT. ***





