Suarantt.id, Kupang-Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis bersama Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki menjadi narasumber dalam kegiatan Bincang-Bincang Orang Muda yang digelar dalam rangka Pekan Raya Pemuda Sinode GMIT di Bumi Perkemahan CHMK Oematnunu pada Kamis (24/10/2025).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Badan Pengurus Pemuda Sinode GMIT ini mengangkat tema “Pemuda, Budaya, dan Transformasi Digital”, dan dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai klasis di wilayah pelayanan GMIT. Diskusi ini menjadi ruang refleksi sekaligus inspirasi bagi generasi muda gereja untuk tetap berakar pada nilai dan budaya lokal di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi.
Dalam pemaparannya, Wakil Wali Kota Kupang Serena C. Francis menekankan bahwa generasi muda harus menjadi agen perubahan yang berintegritas dan berbasis nilai.
“Kemajuan teknologi jangan membuat kita kehilangan jati diri. Justru dengan nilai dan budaya, kita bisa menggunakan teknologi untuk hal-hal yang membangun dan membawa terang bagi banyak orang,” ujarnya.
Serena juga mengapresiasi semangat dan partisipasi pemuda GMIT yang terus menunjukkan kepedulian terhadap isu sosial, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Ia berharap ruang-ruang diskusi seperti ini terus diperluas agar pemuda GMIT menjadi pelopor dalam membangun karakter bangsa.
Sementara itu, Wakil Bupati Kupang Aurum Obe Titu Eki menyoroti pentingnya pemuda untuk berpikir kreatif dan inovatif tanpa meninggalkan akar budaya.
“Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah manusia di baliknya. Kalau nilai dan moral kita kuat, maka kemajuan digital akan membawa manfaat besar bagi daerah dan gereja,” ungkapnya.
Menurut Aurum, tantangan generasi muda saat ini bukan hanya bersaing secara akademik, tetapi juga menjaga ketulusan, etika, dan rasa hormat terhadap sesama. Ia mengajak para pemuda untuk berkontribusi nyata bagi Kabupaten dan Kota Kupang melalui ide-ide kreatif berbasis kearifan lokal.
Ketua Panitia Pekan Raya Pemuda Sinode GMIT, Yohanes Ninu, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan bincang-bincang ini diadakan untuk mempertemukan pemuda dengan para pemimpin muda daerah agar terjadi dialog lintas generasi yang konstruktif.
“Kami ingin pemuda GMIT belajar langsung dari pengalaman para pemimpin muda yang lahir dari konteks yang sama. Bahwa menjadi pemimpin bukan soal usia, tetapi soal nilai, komitmen, dan keberanian untuk berbuat baik,” jelas Yohanes.
Acara berlangsung penuh semangat dan interaktif. Para peserta aktif bertanya seputar kepemimpinan, etika digital, hingga strategi membangun karier di tengah dunia yang terus berubah.
Di akhir kegiatan, kedua narasumber mengajak seluruh peserta untuk terus mengasah kapasitas diri, menjaga semangat pelayanan, dan menjadikan nilai-nilai iman, budaya, serta teknologi sebagai tiga pilar penting dalam membangun masa depan Nusa Tenggara Timur yang lebih maju dan bermartabat. ***





