Suarantt.id, Kupang-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,39 persen pada Desember 2025 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 108,94. Inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga yang terjadi pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran masyarakat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Matamira Kale, menjelaskan bahwa tekanan inflasi Desember 2025 terjadi karena meningkatnya indeks harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran.
“Inflasi y-on-y Desember 2025 disebabkan oleh naiknya indeks harga pada sepuluh kelompok pengeluaran, sementara satu kelompok lainnya mengalami penurunan,” kata Matamira Kale pada Senin, 5 Januari 2025.
Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga antara lain kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,80 persen; pakaian dan alas kaki sebesar 0,20 persen; serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,07 persen.
Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,26 persen; kelompok kesehatan sebesar 1,66 persen; dan kelompok transportasi sebesar 1,25 persen.
Selanjutnya, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami inflasi sebesar 0,31 persen; kelompok pendidikan sebesar 1,31 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,35 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat kenaikan tertinggi yakni 16,66 persen.
Sementara itu, satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks harga adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,63 persen pada Desember 2025.
Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Waingapu dengan angka 3,09 persen dan IHK sebesar 109,93. Adapun inflasi terendah tercatat di Maumere, yaitu sebesar 0,38 persen dengan IHK sebesar 109,62.
Selain inflasi tahunan, BPS NTT juga mencatat inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,81 persen pada Desember 2025. Sementara inflasi year to date (y-to-d) hingga akhir tahun 2025 tercatat sebesar 2,39 persen.
Matamira Kale menambahkan, kenaikan harga pada akhir tahun umumnya dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, serta kondisi distribusi barang di wilayah kepulauan NTT. ***





