Bank Indonesia NTT: Perang Timur Tengah Berpotensi Tekan Ekonomi, Pertumbuhan 2025 Tetap Tertinggi Pasca-Covid

oleh -592 Dilihat
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur, Adi Doyo Prakoso Paparkan Materi dalam Acara Sinergi Stabilitas dan Penguatan Pertumbuhan Ekonomi NTT Tahun 2026 pada Senin, 2 Maret 2026. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Adi Doyo Prakoso, mengingatkan bahwa konflik terbaru di Timur Tengah berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia dan NTT. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hingga saat ini dampak tersebut masih perlu dicermati lebih lanjut.

“Perang di Timur Tengah tentunya nanti juga akan berdampak pada perekonomian Indonesia, termasuk di NTT. Namun sejauh mana dampaknya, ini masih perlu kita lihat dan kaji lebih dalam,” ujarnya dalam acara SAnte-SAnte Duduk ba Omong deng meDia (Sasando Dia) Sinergi Stabilitas dan Penguatan Pertumbuhan Ekonomi NTT Tahun 2026 pada Senin, 2 Maret 2026.

Di tengah meningkatnya risiko global tersebut, ekonomi NTT justru menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi NTT tercatat sebesar 5,14 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 4,7 persen. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak pandemi Covid-19 dan bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan tersebut turut mendorong peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita NTT pada 2025 menjadi Rp25,84 juta per tahun, naik Rp1,57 juta dibandingkan tahun 2024. Dari sisi stabilitas harga, inflasi NTT juga tetap terkendali di angka 2,39 persen atau berada dalam sasaran nasional 2,5±1 persen.

Secara umum, terdapat tiga faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi NTT pada 2025. Pertama, peningkatan produksi pertanian. Kedua, meningkatnya aktivitas perdagangan seiring akselerasi program ekspor. Ketiga, perbaikan neraca perdagangan yang memberikan kontribusi positif terhadap PDRB.

Memasuki tahun 2026, BI memproyeksikan ekonomi NTT akan tumbuh pada kisaran 4,94 hingga 5,8 persen. Optimisme tersebut didukung oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga dan investasi, meskipun tekanan eksternal akibat dinamika geopolitik global tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

BACA JUGA:  Gubernur Melki Launching NTT Mart TTU, Dorong UMKM Naik Kelas dan Beri Dampak Nyata bagi Masyarakat

Selain menjaga stabilitas makroekonomi, BI NTT juga terus mendorong digitalisasi transaksi keuangan daerah. Sepanjang 2025, volume transaksi QRIS di NTT mencapai 75 juta transaksi. Atas capaian tersebut, Provinsi NTT meraih TP2DD Award 2025 sebagai provinsi terbaik kawasan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, sementara Kota Kupang juga dinobatkan sebagai kota terbaik di kawasan yang sama.

Di sisi pengendalian inflasi, BI bersama pemerintah daerah memperkuat sinergi melalui pemantauan harga harian dan mingguan, pelaksanaan pasar murah, subsidi ongkos angkut, serta gerakan tanam guna menjaga ketersediaan pasokan pangan. Inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 3,42 persen dan masih berada dalam kisaran sasaran nasional.

Menjelang Idul Fitri, BI NTT juga memastikan ketersediaan uang kartal sebesar Rp1,7 triliun yang didistribusikan melalui layanan kas keliling dan penitipan di seluruh wilayah NTT guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Ke depan, kami akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga, memperkuat sektor riil, serta meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat agar pertumbuhan ekonomi NTT semakin berkualitas dan berkelanjutan,” tutup Adi Doyo Prakoso. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.