Suarantt.id, Kupang-Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Triwulan I 2025 menunjukkan tren positif, terutama dari sisi penyaluran kredit. Hal ini disampaikan oleh Analis Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTT, Teguh Sitepu, dalam sesi diskusi santai bertajuk “SASANDO Dia: Sante Sante Duduk Baomong Deng Media” yang berlangsung di Restoran Beer and Barrel Kitchen n’ Lounge, Kupang beberapa waktu lalu.
Menurut Teguh, penyaluran kredit kepada rumah tangga dan korporasi meningkat, mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Namun, ia menyoroti masih rendahnya penyaluran kredit produktif di sektor-sektor strategis seperti pertanian dan konstruksi. “Rasio kredit bermasalah (NPL) di beberapa sektor bahkan masih berada di atas ambang batas 5 persen,” jelasnya.
Ekspor NTT Masih Rentan
Teguh juga menyinggung kondisi ekspor daerah yang masih menghadapi tekanan eksternal. Meskipun tarif Amerika Serikat tidak berdampak langsung terhadap ekspor NTT, risiko tidak langsung tetap menjadi ancaman, terutama akibat melemahnya permintaan dari provinsi-provinsi besar seperti Jawa sebagai imbas dari dinamika perdagangan global. Komoditas andalan NTT seperti rumput laut dan udang pun turut merasakan tekanan ini.
Investasi Asing Butuh Penguatan
Dalam bidang investasi, NTT masih didominasi oleh aliran dari negara-negara Asia, seperti Singapura dan Malaysia. “Rendahnya proporsi Penanaman Modal Asing (PMA) terhadap total investasi di NTT menjadi sinyal perlunya strategi yang lebih agresif dan atraktif dalam menarik investor,” ujar Teguh.
Dorong Ketahanan Pangan dan Penguatan SDM
Bank Indonesia NTT terus berkomitmen mendukung ketahanan pangan melalui berbagai program seperti pembentukan Toko Pangan (TOPAN), penerapan Good Agricultural Practices (GAP), dan pengembangan sistem pertanian terintegrasi (integrated farming). Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk lokal dan menjaga stabilitas harga pangan.
Selain itu, penguatan sumber daya manusia menjadi prioritas dalam menghadapi tingginya tingkat pengangguran, terutama dari kalangan lulusan SMA dan perguruan tinggi. Melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi dan Kadin NTT, BI menjalankan pelatihan keterampilan, pengembangan UMKM, serta program wirausaha muda “NTT YES” untuk menciptakan generasi produktif dan kompetitif.
Perkuat UMKM lewat Sinergi dengan Perbankan
BI NTT juga aktif menjembatani kolaborasi antara pelaku UMKM, korporasi, dan lembaga keuangan. Program business matching dengan sektor perhotelan, pelatihan literasi keuangan, hingga pencatatan digital melalui platform SIAPIK terus dikembangkan guna memperluas akses pembiayaan serta memperkuat kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah.
“Semua upaya ini bertujuan memperkuat ekonomi lokal secara inklusif dan berkelanjutan,” tutup Teguh. ***





