Suarantt.id, Kupang-Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kasimirus Kolo, menyoroti meningkatnya persoalan HIV/AIDS di daerah ini yang dinilainya perlu ditangani secara serius dan kolaboratif. Ia menduga adanya kelompok-kelompok tertentu yang terlibat dalam praktik prostitusi yang kemudian menjadi sumber penyebaran HIV/AIDS di masyarakat.
“Saya mencurigai ada kelompok-kelompok tertentu yang terlibat dalam prostitusi lalu mengidap HIV/AIDS. Karena mereka sudah mempunyai semacam bakat untuk melakukan hubungan-hubungan di luar nikah. Selain itu, mereka menjadi sumber untuk menyebarkan HIV/AIDS ke mana-mana,” ujar Kasimirus Kolo kepada wartawan pada Jumat, 10 Oktober 2025.
Menurutnya, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTT perlu bergerak lebih masif dan tidak bekerja sendiri dalam menangani persoalan ini. Ia menilai keterbatasan sumber daya di tubuh KPA membuat koordinasi lintas sektor menjadi sangat penting.
“KPA tidak boleh kerja sendiri-sendiri. Segi sumber daya mereka juga belum mampu, apalagi praktik prostitusi itu sifatnya sangat rahasia, bukan sesuatu yang dipublikasikan. Dibutuhkan kerja keras dari KPA untuk mendeteksi dan menangani masalah ini,” tegasnya.
Kasimirus menekankan bahwa persoalan HIV/AIDS bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang harus ditangani secara kolaboratif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk sekolah, orang tua, dan lembaga keagamaan.
“KPA harus berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk melakukan edukasi, bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mengedukasi tentang bahaya HIV/AIDS dan praktik-praktik liar seperti itu. Ini sangat berbahaya bagi generasi muda,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam memantau perilaku anak di tengah kemajuan teknologi digital saat ini. Menurutnya, pengawasan terhadap anak bukan berarti membatasi, tetapi membangun komunikasi dan memberikan pemahaman yang benar tentang seksualitas.
“Orang tua harus mampu mendeteksi dan memantau pergerakan anak-anak. Bukan berarti setiap hari kita periksa HP mereka, tetapi harus dijelaskan dengan baik. Pendidikan soal seks jangan dianggap tabu, justru harus dijelaskan kepada anak-anak agar mereka mengerti,” ujar Kasimirus.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa anak-anak yang sudah terlibat dalam praktik prostitusi membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk orang tua, sekolah, dan gereja untuk menyuarakan pencegahan dan memberikan pembinaan.
Kasimirus juga mengingatkan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memberikan dukungan anggaran bagi KPA agar dapat bekerja lebih optimal dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di NTT.
“Saya tidak tahu pasti berapa dana yang diberikan kepada KPA, tapi paling tidak mereka sudah membantu pemerintah melaksanakan tugas itu. Namun saya akan cek kondisi penyebaran HIV/AIDS di NTT seperti apa. Pemerintah harus mengalokasikan dana yang cukup untuk penanggulangan dan pencegahan kasus ini,” pungkasnya.
Ia menutup dengan menegaskan kembali bahwa pendidikan di rumah tangga merupakan fondasi penting dalam membentuk pemahaman anak tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas.
“Pendidikan di rumah tangga dan peran orang tua sangat penting dalam mengedukasi anak-anak soal hal seks,” tandas Kasimirus Kolo. ***





