Gubernur Melki Soroti Tingginya Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di NTT

oleh -494 Dilihat
Gubernur NTT Pose Bersama Uskup Agung Kupang dan Asisten II Sekda Kota Kupang di Acara Seminar yang digelar oleh WKRI DPD NTT pada Sabtu, 7 Maret 2026. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menghadiri sekaligus membuka secara resmi kegiatan seminar sehari yang diselenggarakan oleh Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) NTT dalam rangka menyongsong Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 WKRI.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Sahid T-More Kupang, menghadirkan Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, serta Kepala Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan RI Gabriel Lema sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menegaskan bahwa selama 75 tahun keberadaannya, WKRI telah menunjukkan komitmen kuat untuk hadir di tengah masyarakat serta memperjuangkan nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan martabat manusia.

“Di hampir semua organisasi keagamaan di Indonesia, biasanya yang paling rapi sampai ke tingkat bawah adalah organisasi perempuan. Salah satunya adalah WKRI,” ujar Melki.

Menurutnya, WKRI telah menjadi kekuatan moral dan sosial yang menumbuhkan solidaritas, kepedulian, serta penghormatan terhadap martabat manusia. Organisasi ini juga dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat kontribusi perempuan dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Melki juga menyoroti tema seminar yang diangkat, yakni “Wawasan Kebangsaan dalam Upaya Perlindungan terhadap Berbagai Tindakan Kekerasan pada Masyarakat.” Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan kondisi sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.

Ia mengungkapkan bahwa berbagai bentuk kekerasan masih terjadi di tengah masyarakat, terutama terhadap kelompok rentan seperti perempuan dan anak.

“Cara ukurnya sederhana. Berdasarkan data, sekitar 75 persen narapidana di lembaga pemasyarakatan di NTT dipenjara karena kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ungkapnya.

Menurut Melki, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka terdapat korban yang mengalami kehilangan rasa aman, martabat, bahkan masa depan. Oleh karena itu, persoalan kekerasan tidak bisa dilihat hanya sebagai masalah hukum semata, tetapi juga sebagai persoalan moral, sosial, dan budaya yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

BACA JUGA:  Gubernur NTT Minta Jajaran PUPR dan Kepala Balai: Sinergi Infrastruktur untuk Swasembada Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat

Dalam perspektif iman Kristiani, Gubernur Melki mencontohkan kisah Debora dalam Kitab Hakim-Hakim sebagai gambaran kuat tentang peran perempuan dalam kehidupan masyarakat. Debora dikenal sebagai seorang nabi sekaligus hakim bagi bangsa Israel yang memimpin umatnya keluar dari situasi penindasan menuju keadilan dan perdamaian.

Kisah tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa sejak dahulu perempuan telah memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat serta memperjuangkan nilai kebenaran dan keadilan.

Dia menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Karena itu, segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan maupun kelompok rentan bertentangan dengan nilai iman sekaligus bertentangan dengan semangat kemanusiaan yang menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gubernur Melki juga menekankan bahwa dalam program pembangunan daerah yang terangkum dalam Dasa Cita Pemerintah Provinsi NTT, perempuan menjadi salah satu fokus utama dalam pembangunan daerah.

“Perempuan adalah motor penggerak pembangunan. Karena itu kita terus memperkuat sistem perlindungan dan pemberdayaan perempuan, anak, dan kelompok rentan di NTT,” tegasnya.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai kebijakan, penguatan layanan perlindungan korban, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mencegah kekerasan dalam kehidupan sosial.

Gubernur Melki berharap melalui seminar ini akan lahir pemikiran-pemikiran konstruktif serta rekomendasi strategis yang dapat memperkuat kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan dalam upaya pencegahan kekerasan dan perlindungan terhadap kelompok rentan.

Dirinya juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai organisasi perempuan yang selama ini terus memperjuangkan martabat perempuan dan anak di tengah masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kita diingatkan kembali untuk memuliakan perempuan dan anak. Mereka adalah kelompok yang paling rentan, tetapi sekaligus memiliki peran besar dalam membangun masa depan masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA:  Gubernur NTT Dorong UPT Pendapatan Daerah Sumba Tengah Jadi ‘Pejuang PAD’

Menurut Gubernur, visi pembangunan NTT menuju daerah yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan harus dimulai dari keluarga, di mana perempuan memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang berkualitas. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.