Suarantt.id, Kupang-Kelurahan Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, terus menggencarkan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat. Upaya ini terlihat nyata dalam gelaran Festival Budaya Penkase Oeleta yang tidak hanya menampilkan kekayaan budaya lokal, tetapi juga menghadirkan Bank Sampah sebagai sarana edukasi lingkungan sekaligus peluang ekonomi bagi warga.
Camat Alak, Amransius Yolah, mengapresiasi tingginya animo masyarakat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran Bank Sampah menjadi indikator bahwa kesadaran warga terhadap pengelolaan sampah mulai tumbuh.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Penkase Oeleta sudah memiliki kepedulian terhadap sampah. Tugas kita sekarang adalah bagaimana terus meningkatkan kesadaran ini, baik melalui penyediaan sarana prasarana maupun membangun pola pikir masyarakat agar tetap menjaga kebersihan,” ujarnya kepada wartawan di Acara Penutupan Festival Budaya Kelurahan Penkase Oeleta pada Jumat, 1 Mei 2026 malam.
Lurah Penkase Oeleta, Peter Nenohaifeto, menjelaskan bahwa berbagai langkah konkret telah dilakukan untuk membentuk perilaku masyarakat yang peduli lingkungan. Salah satunya melalui kerja bakti rutin di tingkat RW yang dilaksanakan dua kali setiap bulan, serta edukasi langsung kepada warga melalui gereja, masjid, dan forum rapat.
“Kami terus mengingatkan warga agar membuang sampah sesuai jadwal, yaitu pukul 17.00 hingga 06.00 pagi, serta memastikan sampah sudah dibungkus sebelum dibawa ke TPS. Sejak adanya roadmap penanganan sampah dari Wali Kota Kupang, terjadi perubahan perilaku yang cukup signifikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini hampir tidak ada lagi warga yang membuang sampah sembarangan di wilayah tersebut. Namun, masih terdapat tantangan di beberapa titik, terutama di kawasan perbatasan dan daerah yang kerap menjadi lokasi pembuangan sampah oleh oknum dari luar wilayah.
Dari sisi fasilitas, Kelurahan Penkase Oeleta memiliki enam titik tempat pembuangan sampah, terdiri dari tiga TPS permanen dan tiga kontainer. Selain itu, telah terbentuk unit Bank Sampah di RT 36 yang menjadi percontohan bagi wilayah lain.
Ketua LPM Kelurahan Penkase Oeleta, Ngahu Riwu Kaho juga menegaskan bahwa masyarakat telah mengikuti anjuran pemerintah terkait jadwal pembuangan sampah. Setiap RT memiliki titik pengumpulan sementara sebelum sampah diangkut ke TPS. Bahkan, di RT 36, warga sudah bisa menabung sampah dan menukarkannya dengan uang atau barang.
“Kesadaran masyarakat sudah cukup baik, meskipun masih ada kendala keterbatasan kontainer. Kami terus berkoordinasi dengan dinas terkait agar pengangkutan sampah bisa lebih tepat waktu, mengingat volume sampah dari kawasan perumahan cukup tinggi,” ungkapnya.
Sementara itu, kehadiran Bank Sampah dalam Festival Budaya Penkase Oeleta menjadi daya tarik tersendiri. Warga tampak antusias membawa sampah yang telah dipilah untuk ditimbang dan dihargai sesuai jenisnya.
Pengelola Bank Sampah, Yeni Tulle, menyebutkan bahwa pada hari pertama festival, jumlah sampah yang terkumpul mencapai lebih dari 31 kilogram, dan meningkat hingga hampir 50 kilogram pada hari berikutnya.
“Kami ingin masyarakat sadar bahwa sampah bukan hanya untuk dibuang, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Dengan pemilahan yang baik, nilai jual sampah bisa lebih tinggi,” jelasnya.
Harga sampah yang diterima bervariasi, mulai dari Rp500 per kilogram untuk sampah campuran hingga Rp7.000 per kilogram untuk kaleng. Edukasi ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif memilah dan mengelola sampah dari rumah.
Kegiatan ini sejalan dengan visi Pemerintah Kota Kupang yang mendorong pengelolaan sampah terpadu berbasis ekonomi. Festival Budaya Penkase Oeleta pun menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, Kelurahan Penkase Oeleta terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, sekaligus produktif secara ekonomi. (Penulis/ADV)





