Pemkot Kupang Dorong Swasembada Pangan Lewat Sosialisasi Lahan Penggembalaan di BPP Naioni

oleh -1831 Dilihat
Dinas Pertanian Kota Kupang Gelar Sosialisasi Lahan Penggembalaan dan Pendataan Populasi Ternak di BPP Naioni Bagi 35 peternak dari Kecamatan Alak dan Maulafa. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Pagi itu, sinar matahari menembus lembut jendela Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Naioni, Kecamatan Alak. Suasana tampak hidup. Puluhan peternak dari berbagai kelurahan di Alak dan Maulafa duduk rapi, sebagian mengenakan topi caping, sebagian lagi mencatat serius penjelasan dari narasumber. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar, tapi untuk belajar tentang bagaimana lahan penggembalaan dan pendataan ternak dapat menjadi kunci menuju swasembada pangan di Kota Kupang.

Kegiatan sosialisasi lahan penggembalaan dan data populasi ternak ini digagas oleh Dinas Pertanian Kota Kupang dan diikuti oleh 35 orang peternak dari 12 kelompok ternak. Program tersebut bersumber dari DPA Dinas Pertanian Bidang Peternakan, di bawah Program Penyediaan dan Pengembangan Sarana Pertanian, sub kegiatan Pengembangan Penggembalaan Umum.

Menata Lahan, Menata Harapan

Kepala Dinas Pertanian Kota Kupang, Matheus A. B. H. Da Costa, hadir membuka kegiatan. Dengan nada tenang namun penuh keyakinan, ia menekankan bahwa pengelolaan lahan penggembalaan bukan hanya soal ternak, tetapi tentang masa depan pangan di Kota Kupang.

“Kita ingin agar lahan-lahan yang ada dimanfaatkan secara produktif. Peternakan adalah bagian penting dari ketahanan pangan. Kalau peternak kita kuat, maka pangan kita juga kuat,” ujar Matheus.

Ia menjelaskan, penggembalaan yang terencana akan membantu meningkatkan produktivitas ternak sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Pendataan populasi ternak juga menjadi hal penting agar pemerintah memiliki data akurat untuk merancang kebijakan yang tepat.

Belajar dari Tanah Sendiri

Para peternak yang hadir bukan orang baru di dunia ternak. Namun, bagi sebagian dari mereka, pemahaman tentang tata kelola lahan penggembalaan secara ilmiah masih merupakan hal baru. Sosialisasi ini membuka ruang dialog dua arah: peternak berbagi pengalaman di lapangan, sementara penyuluh pertanian memberikan arahan teknis dan solusi.

BACA JUGA:  Misteri Jelang Pelantikan Sekda Kota Kupang, Nama Jeffry Pelt Kian Menguat

Yohanes, salah satu peternak dari Kelurahan Naimata, mengatakan kegiatan ini memberinya pandangan baru tentang pentingnya pemetaan lahan dan pencatatan ternak.

“Selama ini kami beternak berdasarkan kebiasaan. Tapi lewat sosialisasi ini, kami tahu pentingnya mencatat jumlah ternak dan memelihara lahan agar tetap hijau,” tuturnya sambil tersenyum.

Dari Data ke Ketahanan

Matheus Da Costa menambahkan, data populasi ternak bukan sekadar angka di atas kertas. Ia adalah dasar dari perencanaan pangan yang tangguh. Melalui data yang akurat, pemerintah bisa menentukan kebutuhan pakan, mengantisipasi penyakit hewan, dan memetakan potensi produksi daging lokal.

“Kita tidak bisa bicara swasembada tanpa data. Data adalah fondasi dari kebijakan yang efektif,” tegasnya.

Swasembada dari Kupang untuk NTT

Bagi Pemerintah Kota Kupang, kegiatan seperti ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi langkah kecil yang berarti dalam perjalanan panjang menuju swasembada pangan. Program pengembangan lahan penggembalaan menjadi bagian dari strategi Optimalisasi Lahan (OPLAH) yang telah lebih dulu diterapkan untuk sektor pertanian tanaman pangan.

Di balik kegiatan sederhana di BPP Naioni, ada semangat besar untuk menegakkan kemandirian pangan di wilayah yang sering dihadapkan pada tantangan iklim kering dan keterbatasan lahan.

Sosialisasi ini menjadi bukti bahwa swasembada pangan bukan sekadar slogan, melainkan kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat antara kebijakan dan tindakan nyata di lapangan.

Dan di Naioni pagi itu, para peternak pulang dengan bukan hanya membawa pengetahuan baru, tetapi juga harapan: bahwa dari tanah kering Kupang, kemandirian pangan bisa benar-benar tumbuh. (Penulis/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.