Pemprov NTT Perkuat Transformasi Ekonomi, Pariwisata, dan SDM Lewat Dasa Cita

oleh -465 Dilihat
Gubernur dan Wagub NTT Gelar Coffee Morning Bersama Wartawan pada Jumat,19 Desember 2025. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperkuat transformasi pembangunan daerah yang berkelanjutan melalui implementasi sepuluh Program Dasa Cita “Ayo Bangun NTT”. Tahun 2025 menjadi fase penting dalam peletakan fondasi transformasi tersebut.
Hal itu disampaikan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam kegiatan Coffee Morning bersama media massa yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat (19/12/2025).
“Fondasi transformasi ‘Ayo Bangun NTT’ sudah kita letakkan di tahun 2025. Hasilnya mulai terlihat, namun pekerjaan rumah besar masih ada dan harus kita kerjakan bersama secara berkelanjutan,” tegas Gubernur Melki Laka Lena.
Gubernur menjelaskan, salah satu fokus utama Pemprov NTT adalah mendorong transformasi ekonomi dari hulu ke hilir melalui Program One Village One Product (OVOP). Hingga akhir 2025, tercatat sebanyak 190 UMKM binaan dengan 44 produk unggulan berbasis pangan olahan, herbal, kriya, dan tenun ikat.
Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas pelaku usaha, desain dan kemasan, pengurusan perizinan BPOM dan halal, hingga perluasan akses pasar melalui NTT Mart.
“Ke depan, kita tidak boleh lagi menjual barang mentah. Polanya harus berubah dari tanam–panen–jual menjadi tanam–panen–olah–kemas–jual agar tercipta nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Gubernur.
Sebagai penguatan pasar produk lokal, NTT Mart kini telah beroperasi di sejumlah kabupaten/kota dan menjadi wadah pemasaran produk hilirisasi desa, sekolah, dan komunitas. Program ini sejalan dengan Gerakan Beli NTT serta pengembangan Dapur Flobamorata.
Di sektor pertanian dan ketahanan pangan, Pemprov NTT juga melaksanakan berbagai program pendukung seperti Pasar Tani, Pameran Pangan Lokal, Bimbingan Teknis Pengolahan Hortikultura, serta program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) guna mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Gubernur juga menekankan pentingnya peran pemuda dan perempuan sebagai motor penggerak kreativitas dan ekonomi lokal. Sepanjang tahun 2025, program inkubator bisnis, youth campaign, dan pengembangan ekonomi kreatif telah menjangkau lebih dari 1.200 peserta di 18 kabupaten/kota.
“Pemuda dan perempuan bukan objek pembangunan, tetapi subjek utama penggerak ekonomi kreatif dan perubahan sosial di NTT,” tegasnya.
Pelatihan ekonomi kreatif berbasis desa wisata turut menjangkau pelaku UMKM di Kabupaten Kupang, Ende, Flores Timur, Sumba Barat Daya, Alor, dan Rote Ndao. Produk unggulan yang dikembangkan meliputi kopi, jagung titi, ikan olahan, hingga bumbu lokal, disertai kampanye isu sosial seperti pencegahan narkoba, pernikahan dini, perdagangan orang, serta kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Pada Dasa Cita 3, sektor pariwisata diperkuat melalui penyelenggaraan berbagai event strategis berskala nasional dan internasional. Tour de EnTeTe 2025 diikuti 80 pembalap dari 13 negara dan melintasi Pulau Timor, Sumba, dan Flores. Selain itu, Kupang Exotic Festival, Festival Ana NTT Kreatif, Pameran Pembangunan “NTT BaGaYa”, Parade Tenun “NTT Berwarna 2025”, serta rangkaian kegiatan HUT ke-67 Provinsi NTT dan perayaan Natal 2025 berhasil menarik puluhan ribu pengunjung dan menggerakkan ekonomi lokal.
“Rangkaian kegiatan ini terbukti mendorong promosi budaya, meningkatkan kunjungan wisata, serta memberi dampak langsung bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif,” ujar Gubernur.
Melalui Dasa Cita 4, Pemprov NTT telah menuntaskan pembayaran jaminan sosial ketenagakerjaan bagi 100.000 pekerja informal rentan di 22 kabupaten/kota dengan capaian 100 persen. Program ini menyasar petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM, lansia, penyandang disabilitas, serta keluarga rentan.
Sementara itu, Dasa Cita 5 menunjukkan hasil signifikan dalam penurunan stunting. Berdasarkan data e-PPGBM per 17 Desember 2025, prevalensi stunting di NTT turun menjadi 20,5 persen melalui penguatan Posyandu Tangguh, intervensi gizi spesifik dan sensitif, serta kolaborasi lintas sektor.
“Penurunan kemiskinan dan stunting harus berjalan seiring melalui intervensi spesifik dalam bingkai aksi konvergensi lintas sektor,” kata Gubernur.
Di bidang pendidikan, Dasa Cita 6 difokuskan pada penguatan sekolah vokasi unggulan dan Sekolah Rakyat, rehabilitasi dan renovasi ratusan sekolah, serta percepatan digitalisasi pendidikan. Hingga 2025, tercatat 127 sekolah direhabilitasi, 340 sekolah direnovasi, dan lebih dari 105 sekolah menerima dukungan perangkat internet.
Melalui Dasa Cita 7, Pemprov NTT juga fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti jalan, air bersih, listrik, dan rumah layak huni melalui kolaborasi lintas pemerintah daerah. Sementara Dasa Cita 8 dan 9 diarahkan pada percepatan reformasi birokrasi, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan transformasi digital.
Program Meja Rakyat (Melki–Johni Melayani Rakyat) mencatat sebanyak 429 pengaduan masyarakat dan seluruhnya telah ditindaklanjuti. Atas penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), Pemprov NTT juga meraih Digital Government Award 2024 dengan predikat Sangat Baik.
Gubernur menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun pertanggungjawaban terbuka atas pelaksanaan Dasa Cita dan Asta Cita.
“Publik harus tahu secara jelas bagaimana Melki–Johni menjalankan Dasa Cita dan program pemerintah pusat,” tegasnya.
Ia juga meminta seluruh Perangkat Daerah untuk secara terbuka merilis rincian program dan kegiatan tahun 2026 serta mendorong peran ASN Pemprov NTT dalam Gerakan Beli NTT melalui belanja di NTT Mart.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menekankan pentingnya kampanye sadar membayar pajak dengan melibatkan peran media massa.
“Jika tingkat kepatuhan meningkat hingga 70 persen, dampaknya akan sangat signifikan bagi peningkatan pendapatan daerah,” ujarnya.
Wakil Gubernur juga menyoroti lonjakan kasus HIV/AIDS, khususnya di kalangan generasi muda, dan menegaskan pentingnya upaya pencegahan melalui keterlibatan keluarga, sekolah, tokoh agama, dan komunitas.
Menutup kegiatan tersebut, Gubernur menegaskan bahwa keberhasilan Dasa Cita dan program nasional hanya dapat dicapai melalui kolaborasi lintas sektor.
“Ayo Bangun NTT bukan hanya program pemerintah, tetapi gerakan bersama. Pemerintah bekerja terukur, Perangkat Daerah bertanggung jawab, dan masyarakat ikut mengawal. Semua harus dijalankan dengan kerja kolaborasi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.