Rombongan Media Gathering BI NTT Telusuri Jejak Kelahiran Bung Karno di Kampung Heritage Peneleh Surabaya

oleh -412 Dilihat
Rombongan Media Gathering BI NTT Berkunjung ke Kampung Kelahiran Bung Karno di Surabaya. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Surabaya-Siang itu, Jumat 26 September 2025, matahari di Kota Surabaya terasa membakar kulit. Namun teriknya cuaca tak menyurutkan langkah rombongan Media Gathering Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Timur (BI NTT) untuk menapaki lorong sempit bersejarah di kawasan Peneleh, Surabaya. Tujuan mereka jelas: menyaksikan langsung rumah kelahiran Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno.

Rombongan jurnalis ini datang bukan sekadar wisata sejarah, melainkan sebuah perjalanan batin menelusuri jejak kehidupan awal pemimpin besar yang kelak memproklamasikan kemerdekaan bangsa. Setiap langkah kaki mereka menyusuri gang kecil seolah membawa kembali ke lebih dari seabad lalu, saat bayi mungil bernama Koesno Sosrodihardjo lahir di kampung multietnis tersebut.

Kampung Heritage yang Sarat Makna

Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya, dikenal sebagai salah satu kawasan heritage tertua di kota ini. Rumah-rumah lawas dengan pintu kayu besar, lorong sempit berplester semen tua, serta langit-langit rendah menandai kawasan yang menyimpan cerita panjang sejarah bangsa. Di sini berdiri Rumah Kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean IV Nomor 40, bersebelahan dengan rumah bersejarah HOS Tjokroaminoto, dan tak jauh dari makam-makam peninggalan era kolonial.

Nama “Peneleh” sendiri diyakini berasal dari kata Pinilih, yang berarti “yang terpilih”  seolah menjadi pertanda bahwa kampung ini memang melahirkan tokoh besar bangsa. Pada akhir abad ke-19, Peneleh adalah kampung multietnis, dihuni pendatang Jawa, Bali, hingga Tionghoa, hidup berdampingan dalam harmoni.

Rumah Kontrakan Sederhana, Lahirnya Pemimpin Besar

Pasangan Raden Soekeni Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, yang sebelumnya tinggal di Bali, menetap di rumah kontrakan sederhana di Peneleh pada periode 1898–1901. Anak pertama mereka, Raden Soekarmini, lahir di Singaraja pada 1898. Di rumah kontrakan Peneleh inilah lahir anak kedua, Koesno Sosrodihardjo kelak dikenal sebagai Soekarno pada 6 Juni 1901, tepat saat fajar menyingsing.

Tanpa tenaga medis, kelahiran Koesno ditolong para tetangga sekitar. Ari-ari bayi Soekarno dikuburkan di halaman rumah, mengikuti tradisi Jawa. Jendela kamar tempatnya lahir masih terawat hingga kini. Cahaya matahari pagi yang menembus jendela menjadi simbol awal perjalanan hidup “Putra Sang Fajar”.

Putra Sang Fajar dan Pesan Sang Ibu

Bung Karno di kemudian hari kerap mengenang pesan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben:
“Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Engkau kelak akan menjadi pemimpin besar rakyatmu, karena ibu melahirkanmu di saat fajar menyingsing. Jangan lupakan, Nak, engkau ini Putra Sang Fajar.”

Nama kecil Koesno akhirnya diganti menjadi Soekarno karena sering sakit. Nama “Karno” diambil dari tokoh pewayangan Mahabharata yang terkenal gagah berani. Perubahan nama ini dilakukan dengan ritual ruwatan dan doa selametan, menunjukkan kuatnya tradisi spiritual keluarga tersebut.

Nuansa Spiritual Kejawen yang Kental

Pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Heritage Peneleh menjelaskan, rumah kelahiran Bung Karno bukan sekadar situs sejarah tetapi juga memiliki dimensi spiritual. Ayahnya, Raden Soekeni Sosrodihardjo, dikenal sebagai penekun spiritualitas Jawa dan ajaran Sadulur Papat. Tradisi ini diyakini membentuk karakter Bung Karno kelak sebagai pemimpin yang percaya pada persatuan dan keberagaman.

Sensasi merinding sering dirasakan pengunjung saat memasuki kamar tempat Soekarno lahir. Aura sejarah terasa kental. Dinding-dinding rumah menyimpan cerita tentang kesederhanaan, keberanian, dan keteguhan semangat nasionalisme yang kelak tumbuh dalam diri Bung Karno.

Destinasi Edukasi dan Inspirasi

Kini Rumah Kelahiran Bung Karno telah difungsikan sebagai museum mini yang dikelola Pokdarwis Kampung Heritage Peneleh. Foto-foto lama, dokumen sejarah, hingga perabotan peninggalan keluarga Soekarno tertata rapi di dalamnya. Setiap sudut ruang seolah berbicara tentang perjuangan dan masa kecil sang proklamator.

BACA JUGA:  Wagub NTT Hadiri Perayaan 249 Tahun Kemerdekaan AS di Surabaya: Dorong Penguatan Hubungan Bilateral

Rombongan Media Gathering BI NTT terlihat serius mendengarkan penjelasan pemandu wisata. Mereka menyimak kisah perjalanan hidup Bung Karno sejak lahir hingga menjadi pemimpin bangsa. Bagi mereka, kunjungan ini bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga sarana belajar nilai-nilai nasionalisme yang mulai memudar di era digital.

Jejak Sejarah yang Tak Lekang Waktu

Perjalanan singkat ke Peneleh menjadi pengingat bahwa pemimpin besar lahir dari akar yang sederhana. Rumah kayu berlantai semen ini pernah menjadi saksi lahirnya gagasan besar tentang Indonesia merdeka. Pesan Bung Karno “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” terasa relevan di setiap jengkal rumah kelahiran ini.

Di tengah hiruk pikuk modernisasi kota Surabaya, kampung heritage Peneleh tetap berdiri sebagai saksi sejarah dan penjaga ingatan kolektif bangsa. Kunjungan rombongan media gathering BI NTT menegaskan kembali pentingnya merawat situs-situs sejarah untuk menginspirasi generasi penerus. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.