Suarantt.id, Kupang-Di tengah tantangan menekan angka stunting di Kota Kupang, Dinas Pertanian setempat menghadirkan pendekatan berbeda: mengubah lahan sempit menjadi sumber pangan bergizi. Melalui program urban farming dan inovasi YUMINA (YUri-sayur, MINA-ikan), upaya pemenuhan gizi kini dikaitkan langsung dengan pemanfaatan lahan dan pelibatan masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian Kota Kupang, Herry Dacosta, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari kebutuhan untuk menekan angka stunting secara berkelanjutan, tidak hanya melalui bantuan pangan tetapi juga pemberdayaan keluarga. “Kami ingin agar keluarga dengan anak stunting bisa menghasilkan sumber makanan bergizi sendiri, baik dari tanaman sayur maupun hewan ternak,” ujarnya.
Menurut Herry, pada tahun 2025 melalui DPA Dinas Pertanian Kota Kupang, program ini memanfaatkan dana DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau) sebesar lebih dari Rp400 juta. Dana tersebut diarahkan untuk kegiatan urban farming yang berfokus pada penurunan angka stunting.
Pemanfaatan Lahan Sempit untuk Gizi Anak
Melalui dua bidang utama holtikultura dan peternakan Dinas Pertanian menghadirkan berbagai model pertanian perkotaan, mulai dari irigasi tetes, hidroponik, green house, hingga cara sederhana seperti menanam di polibag.
“Dalam bidang holtikultura, kami akan membagikan paket benih sayur seperti kangkung, sawi, tomat, dan cabai untuk 60 keluarga yang memiliki anak stunting. Selain benih, mereka juga akan menerima bantuan pupuk dan polibag,” jelas Herry.
Pembagian paket ini dijadwalkan berlangsung pada November 2025, beriringan dengan pelatihan pemanfaatan lahan. “Banyak keluarga dengan anak stunting tinggal di rumah kos tanpa pekarangan luas, jadi kita dorong agar bisa bertani di ruang sempit dengan metode sederhana,” tambahnya.
Program YUMINA: Kolaborasi untuk Gizi Berkelanjutan
Salah satu program unggulan tahun ini adalah YUMINA, yang diambil dari bahasa Jepang YU berarti sayur dan MINA berarti ikan. Program ini memperkenalkan budidaya ikan dalam ember (hidroponik), dikombinasikan dengan penanaman sayur di sekitarnya.
Sebanyak 15 keluarga dengan anak stunting di Kelurahan Oesapa akan menjadi penerima manfaat tahap pertama. Dinas Pertanian juga menggandeng Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang sebagai mitra pelatihan.
“Mereka akan diajarkan cara memelihara ikan lele, menanam sayur, hingga mengelola hasilnya untuk kebutuhan gizi harian,” terang Herry. “Kami berharap anak-anak stunting bisa mendapatkan asupan hewani dan nabati dari hasil budidaya ini.”
Pelatihan direncanakan berlangsung pada minggu ketiga November 2025, dan setiap keluarga akan menerima satu paket bantuan berupa benih ikan lele, pakan, dan perlengkapan ember hidroponik.
Peternakan Keluarga untuk Tambahan Gizi
Selain itu, Dinas Pertanian juga mengalokasikan bantuan di bidang peternakan. Sebanyak 40 anak stunting di Kelurahan Naioni, Lasiana, dan Kelapa Lima akan menerima bantuan ayam KUB dan ayam petelur.
“Satu paket berisi satu ekor ayam jantan, empat ekor betina, kandang, dan pakan selama tiga bulan. Harapan kami, keluarga penerima bisa memenuhi kebutuhan protein dari hasil ternak sendiri,” jelas Herry.
Harapan untuk Masa Depan
Langkah Dinas Pertanian Kota Kupang ini menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak hanya berhenti di meja medis, tetapi bisa dimulai dari pekarangan rumah sekecil apapun lahannya. Dengan menggabungkan teknologi pertanian sederhana dan partisipasi masyarakat, program ini diharapkan menumbuhkan kemandirian pangan dan memperkuat ketahanan gizi keluarga.
“Ini bukan sekadar program pertanian,” tutup Herry Dacosta, “tapi investasi sosial untuk masa depan anak-anak Kota Kupang yang lebih sehat dan cerdas.” (Penulis/ADV)







