Suarantt.id, Kupang-Pemangku Masyarakat Adat dan Peradaban MEO NAEK TEFLOPO AN BI PAH TIMOR, Yoseph Ariyanto Ludoni, meminta agar polemik yang terjadi dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSP Swastisari Kupang tidak dipolitisasi dan tetap diselesaikan dengan mengedepankan nilai persaudaraan serta prinsip koperasi.
Menurutnya, dinamika yang terjadi dalam tubuh KSP Swastisari merupakan hal yang wajar dalam sebuah organisasi ekonomi kerakyatan. Namun, ia menilai persoalan tersebut tidak boleh berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang justru merusak kepercayaan anggota.
“Polemik ini adalah dinamika. Tetapi jangan sampai RAT ini dipolitisasi. KSP Swastisari adalah salah satu penggerak ekonomi kerakyatan yang menjunjung tinggi gotong royong dan musyawarah untuk mufakat,” ujarnya kepada wartawan melalui handphone selulernya pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Sebagai pihak luar yang mengamati, Yoseph mengaku tetap mengapresiasi pelaksanaan RAT yang telah digelar. Ia juga menilai koperasi tersebut selama ini telah menunjukkan perkembangan yang baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya para anggotanya.
Namun demikian, ia menyayangkan munculnya kelompok-kelompok yang bersikap emosional dalam menyikapi hasil RAT.
Menurutnya, jika tata kelola koperasi sudah berjalan dengan baik, maka seharusnya semua pihak dapat menerima hasil yang ada dengan bijaksana.
“Kalau luka secara medis bisa diobati, tetapi kalau luka batin yang muncul ke publik, itu tidak baik dan tidak bijaksana,” tegasnya.
Yoseph juga menyoroti adanya indikasi bahwa polemik tersebut mulai mengarah pada muatan politis. Ia mengingatkan bahwa jika RAT dijadikan ajang adu kekuatan, maka hal itu justru akan merugikan anggota koperasi.
Ia menegaskan bahwa setiap keputusan dalam RAT harus dihormati bersama, meskipun tidak selalu mencapai kata mufakat. Proses tersebut, kata dia, tetap sah selama dilakukan sesuai aturan organisasi.
“Ini organisasi ekonomi kerakyatan. Harus diselesaikan sesuai AD/ART, bukan mencari siapa yang benar atau salah,” katanya.
Lebih lanjut, Yoseph berharap para pengurus, tokoh, sesepuh, serta perintis koperasi dapat segera duduk bersama untuk mencari jalan keluar terbaik. Ia mengingatkan bahwa pelayanan kepada anggota dan perputaran ekonomi tidak boleh terhambat oleh konflik internal.
Ia juga mengingatkan bahwa jika polemik ini terus berlarut, maka dapat berdampak pada menurunnya kepercayaan anggota, bahkan berpotensi memicu penarikan dana secara besar-besaran.
“Kalau kepercayaan terganggu, orang bisa menarik uangnya. Padahal koperasi ini dibangun dengan susah payah dan melibatkan ribuan anggota,” ujarnya.
Untuk itu, ia meminta semua pihak kembali pada AD/ART sebagai landasan penyelesaian konflik, sekaligus sebagai upaya pemulihan hubungan yang mulai retak di antara sesama anggota.
Yoseph juga mengajak kedua pihak yang terlibat dalam kontestasi untuk saling menghormati dan menghindari kecurigaan yang dapat memperkeruh suasana.
“Kita harus saling menghargai demi masa depan KSP Swastisari Kupang. Jangan ada tarik-menarik atau saling menolak yang justru memperbesar konflik,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Yoseph berharap polemik yang terjadi dapat segera berakhir, sehingga rasa persaudaraan di antara anggota koperasi dapat kembali terjalin dengan baik.
“Kami berharap ke depan persoalan ini selesai, dan persaudaraan bisa kembali pulih,” pungkasnya. ***







