Belum Sebulan Dikerjakan, Aspal Hotmix Proyek IJD di Fatukoa Kota Kupang Sudah Retak

oleh -346 Dilihat
Proyek IJD di Kelurahan Fatukoa Kota Kupang Sudah Rusak. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Proyek preservasi Inpres Jalan Daerah (IJD) pada ruas jalan nasional di wilayah Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, menuai sorotan. Aspal hotmix yang baru saja dihampar dan belum genap hitungan bulan, kini terlihat retak bahkan hancur di sejumlah titik.

Pantauan di lapangan menunjukkan retakan memanjang, pecah menyerupai pola jaring laba-laba (retak buaya), hingga permukaan yang mulai terkelupas. Kondisi ini kontras dengan status proyek yang menggunakan anggaran miliaran rupiah dari APBN Tahun Anggaran 2025.

Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan tersebut berada di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, dilaksanakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Nusa Tenggara Timur dan Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi NTT.

Data proyek mencatat, paket pekerjaan meliputi Preservasi Jalan Jl. Titus Nau, Jl. Mollo Sujan, dan Jl. Mollo Oetun di Kota Kupang. Nomor kontrak HK 0203-Bpjn11.6.1/850 tertanggal 3 Desember 2025 dengan nilai kontrak sebesar Rp22.272.477.000,00 yang bersumber dari APBN Murni TA 2025. Waktu pelaksanaan tercatat 29 hari kalender dengan masa pemeliharaan 365 hari kalender. Proyek ini dikerjakan oleh PT. Amar Jaya Pratama dengan konsultan pengawas PT. Arci Pratama Konsultan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan nilai pekerjaan tersebut kemudian mengalami optimasi menjadi sekitar Rp16 miliar lebih.

Pakar: Indikator Masalah Mutu

Sejumlah pakar konstruksi jalan menilai, kerusakan dini seperti ini hampir mustahil terjadi jika seluruh tahapan teknis dilaksanakan sesuai spesifikasi standar Bina Marga.

Salah satu akademisi teknik sipil yang dihubungi awak media pada Rabu (25/02/2026), menegaskan bahwa retak dini pada umur jalan yang sangat muda merupakan indikator kuat adanya persoalan mendasar.

BACA JUGA:  Ribuan Warga Padati Kota Kupang Saksikan Paskah Pemuda GMIT 2025

“Aspal hotmix yang dikerjakan dengan standar Bina Marga, dengan pondasi dan pemadatan yang benar, tidak mungkin retak dalam hitungan minggu atau bulan. Kalau itu terjadi, hampir pasti ada masalah pada kepadatan, ketebalan, atau kualitas material,” ujarnya.

Menurutnya, retak tipe fatigue cracking atau retak buaya biasanya muncul akibat kegagalan struktur pondasi. Jika agregat tidak dipadatkan maksimal dan tanah dasar labil, maka beban kendaraan akan langsung menekan lapisan atas.

Ia juga menyoroti waktu pelaksanaan yang relatif singkat, yakni 29 hari kalender untuk paket pekerjaan bernilai lebih dari Rp22 miliar.

“Pertanyaannya, apakah semua tahapan seperti uji CBR tanah dasar, penghamparan berlapis, hingga uji kepadatan minimal 98 persen benar-benar dilakukan? Atau hanya mengejar progres fisik?” katanya.

Retak Bukan Sekadar Cacat Permukaan

Secara teknis, retaknya hotmix merupakan hasil korelasi antara perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Jika salah satu tahapan tidak optimal, dampaknya akan terlihat di permukaan.

Tanah dasar yang lunak atau tidak distabilisasi dengan baik dapat mengalami penurunan diferensial. Aspal kemudian retak mengikuti deformasi di bawahnya. Selain itu, suhu penghamparan yang tidak ideal, pemadatan yang tidak memenuhi standar, hingga ketebalan lapisan yang lebih tipis dari desain dapat mempercepat kerusakan.

Air juga menjadi faktor krusial. Drainase yang buruk memungkinkan air meresap dan melemahkan pondasi. Dalam siklus panas dan hujan ekstrem, aspal akan memuai dan menyusut hingga akhirnya pecah.

Menariknya, informasi yang diperoleh media ini menyebutkan bahwa kendaraan bertonase besar dipastikan belum melintasi ruas tersebut. Namun retakan sudah muncul di sejumlah titik.

Publik Tunggu Tanggung Jawab

Dengan masa pemeliharaan selama 365 hari kalender, publik kini menunggu langkah konkret dari pihak kontraktor dan penyelenggara proyek. Apakah kerusakan ini akan segera diperbaiki sesuai ketentuan masa pemeliharaan, atau justru dibiarkan hingga kerusakan meluas?

BACA JUGA:  Anggota DPRD Mokris Lay Jalani Tahap II di Kejari Kota Kupang, Kasus Penelantaran Istri dan Anak Masuk Meja Hijau

Jalan nasional merupakan urat nadi ekonomi masyarakat. Ketika jalan yang baru selesai sudah retak, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas konstruksi, tetapi juga kredibilitas sistem pengawasan proyek negara.

Kerusakan ini mungkin kabar buruk bagi pengguna jalan. Namun di sisi lain, retaknya aspal menjadi alarm dini untuk evaluasi teknis menyeluruh sebelum anggaran kembali terkuras untuk tambal sulam di kemudian hari. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.