Dinkes NTT Gelar Kegiatan Percepatan Penurunan Stunting, Dorong Sinergi Lintas Sektor

oleh -573 Dilihat
Kadis Kesehatan NTT Paparkan Materi soal Penanganan Stunting di NTT. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar kegiatan percepatan penurunan stunting pada Rabu (21/5/25), bertempat di Hotel Harper Kupang. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi penguatan koordinasi lintas sektor dalam mengatasi persoalan gizi kronis yang masih menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah di NTT.

Kegiatan ini juga selaras dengan visi besar Program Melki–Johni bertajuk “Ayo Bangun NTT”, yang berfokus pada pembangunan NTT sebagai provinsi yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan. Program ini mencakup misi strategis seperti pembangunan infrastruktur berbasis potensi daerah, perluasan layanan kesehatan dan jaminan sosial yang inklusif, pendidikan berkualitas, serta pengelolaan sumber daya berkelanjutan.

Fokus pada Akar Permasalahan Gizi

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Iien Adriany dalam pemaparannya menekankan pentingnya komitmen bersama dalam menanggulangi stunting.
“Kalau kita abai, stunting akan berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia kita. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tapi masa depan generasi kita,” tegasnya.

Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Kupang, I Gusti Ngurah Suarnawa yang juga hadir sebagai peserta, menggarisbawahi bahwa stunting umumnya berasal dari persoalan gizi yang tidak ditangani sejak awal kehidupan anak.

“Kekurangan nutrisi di masa awal pertumbuhan menyebabkan hambatan pada perkembangan fisik anak, khususnya tinggi badan,” jelasnya.

11 Kabupaten Alami Tren Kenaikan

Berdasarkan data ePPGBM hasil intervensi hingga Juni 2024, tercatat 11 kabupaten di NTT menunjukkan potensi kenaikan angka stunting. Wilayah tersebut antara lain: TTS, TTU, Sabu Raijua, Alor, Kabupaten Kupang, Belu, Malaka, Flores Timur, Rote Ndao, Sumba Barat Daya, dan Sikka.

Peningkatan ini dipicu oleh tren penurunan berat badan anak usia 2–59 bulan, tingginya angka anemia pada remaja putri dan ibu hamil, serta banyaknya kasus bayi dengan berat lahir rendah yang belum tertangani secara menyeluruh.

BACA JUGA:  DPRD NTT Ingatkan Ombudsman Tak Gegabah Respon Aduan Warga soal Pungutan Sekolah

Sinergi dan Aksi Nyata

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penguatan sinergi lintas sektor—antara dinas kesehatan, pemerintah kabupaten/kota, lembaga swadaya masyarakat, hingga tokoh masyarakat—untuk mengintervensi faktor-faktor penyebab stunting sejak hulu.

Dinas Kesehatan Provinsi NTT menegaskan bahwa upaya penurunan stunting tidak bisa dilakukan secara sektoral dan sporadis. Diperlukan pendekatan komprehensif, berkelanjutan, serta partisipatif demi masa depan anak-anak NTT yang lebih sehat dan berkualitas. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.