Harmoni di Rumah Jabatan: Wakil Gubernur NTT dan Media Menyulam Harapan Bersama

oleh -249 Dilihat
Diskusi Wagub Johni Asadona dan Media Tanpa Sekat di Rujab Wagub NTT pada Jumat, 2 Januari 2026. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Aula Rumah Jabatan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur pada Jumat, 2 Januari 2026, petang itu tidak sekadar menjadi ruang pertemuan resmi. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan batin, tempat dialog tumbuh tanpa jarak, dan kata-kata menemukan maknanya.

Di ruang itu, pemerintah dan media tidak berhadap-hadapan sebagai dua kepentingan, melainkan duduk sejajar sebagai mitra yang menyadari tanggung jawab bersama terhadap masa depan NTT.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, hadir bukan dengan gestur kekuasaan, melainkan dengan keteduhan sikap. Ia menyapa awak media dengan bahasa yang membumi, tenang, jujur, dan mengajak. Pertemuan awal tahun itu menjadi simbol bahwa komunikasi adalah fondasi utama pembangunan, dan kepercayaan hanya bisa tumbuh ketika ruang dialog dibuka dengan tulus.

Dalam suasana yang cair dan bersahabat, Johni Asadoma menegaskan peran strategis media sebagai penjaga nalar publik. Media, menurutnya, bukan sekadar penyampai informasi, tetapi mitra dalam merawat optimisme sosial, mengawal kebijakan agar tetap berpihak pada kemanusiaan, serta menjaga keberadaban di tengah keberagaman. Pembangunan, katanya, tidak cukup diukur dari infrastruktur yang berdiri megah atau angka statistik yang terus bergerak, melainkan dari kualitas komunikasi, kejujuran menyampaikan fakta, dan keberanian menjaga etika.

Percakapan mengalir tanpa sekat. Tidak ada monolog panjang, tidak pula nada instruktif. Yang hadir adalah kesediaan untuk mendengar sebuah sikap yang kian langka, namun justru paling dibutuhkan di era informasi yang bergerak cepat. Media dan pemerintah bertukar pandangan, berbagi kegelisahan, sekaligus merajut harapan tentang NTT yang lebih beradab dan berdaya.

Di tengah suasana dialog itu, harmoni menemukan bentuknya yang paling sederhana dan manusiawi. Johni Asadoma memilih cara yang tak lazim bagi seorang pejabat yakni bernyanyi. Ia membawakan tembang kenangan Broery Marantika, lagu dari masa lalu yang tetap hidup dalam ingatan kolektif. Suaranya mengalun pelan, tanpa pretensi, tanpa jarak. Seketika, aula berubah menjadi ruang kebersamaan, tempat formalitas luluh oleh kehangatan.

BACA JUGA:  Pemkot Kupang Salurkan Dana PEM Tahap VI di Kelurahan Nunhila, Wujudkan Ekonomi Masyarakat yang Berdaya

Lagu itu menjadi metafora tentang pembangunan. Bahwa membangun daerah, seperti menyusun sebuah komposisi musik, membutuhkan harmoni. Pemerintah, media, dan masyarakat adalah nada-nada yang berbeda bukan untuk diseragamkan, tetapi untuk diselaraskan.

Dari perbedaan yang dirawat dengan saling percaya, lahirlah irama besar bernama Nusa Tenggara Timur.
Menjelang akhir pertemuan, yang tertinggal bukanlah gemuruh tepuk tangan, melainkan kesadaran bersama: kolaborasi adalah fondasi peradaban. Pembangunan yang berkelanjutan hanya mungkin tumbuh dari dialog yang jujur, kepercayaan yang dijaga, dan keberanian untuk tetap manusiawi di tengah tanggung jawab publik.

Dari Aula Rumah Jabatan Wakil Gubernur NTT, Jumat petang itu, mengalir pesan yang sederhana namun bernas bahwa membangun daerah bisa dimulai dari menyapa, dari mendengar, dan sesekali, dari bernyanyi bersama. Sebab di sanalah harapan disulam, perlahan namun pasti, dalam harmoni. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.