Mantan Wartawan Harian Kompas Sentil Tagline Pemimpin NTT: Banyak Janji, Minim Realisasi

oleh -1548 Dilihat
Mantan Wartawan Harian Kompas, Kornelis Kewa Ama. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Mantan wartawan Harian Kompas, Kornelis Kewa Ama, melontarkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan sejumlah kepala daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dinilai lebih mengutamakan slogan ambisius daripada realisasi program nyata.

Menurut Kornelis, fenomena ini mengingatkan pada era kepemimpinan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) periode 2018-2023, yang sarat dengan janji-janji besar, namun minim hasil konkret bagi masyarakat.

“Tagline seperti ‘lompatan jauh,’ ‘out of the box,’ hingga program ambisius seperti pengiriman 20.000 sarjana ke luar negeri, pesawat jemput pasien dari desa, serta rencana pembangunan kereta api Kupang-Dili terdengar luar biasa. Namun, lima tahun berlalu, masyarakat justru tidak mengenang satu pun realisasi dari program-program ini,” ujar Kornelis.

Ia juga menyoroti janji-janji lain, seperti menjadikan kelor sebagai “emas hijau,” membangun embung di setiap desa, meningkatkan kemahiran bahasa Inggris bagi ASN, serta digitalisasi 20.000 UMKM. Namun, menurutnya, kebijakan-kebijakan tersebut tidak meninggalkan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.

“Satu-satunya yang benar-benar dikenang dari era VBL justru pengalihan status tanah adat Besipae di Timor Tengah Selatan, yang hingga kini masih menyisakan polemik,” tegasnya.

Pemimpin Baru, Jargon Lama

Kritik Kornelis muncul di tengah euforia pemimpin baru di NTT yang kembali menawarkan berbagai tagline ambisius. Ia mengingatkan agar pemimpin daerah tidak hanya sekadar menggaungkan slogan menarik, tetapi benar-benar memastikan program mereka berjalan dan dirasakan langsung oleh rakyat.

Lebih lanjut, Kornelis menyoroti fenomena kepala daerah yang lebih puas dengan sering muncul di media massa ketimbang memastikan program mereka terealisasi. Baginya, banyak pemimpin daerah hanya ingin namanya dikenal luas oleh masyarakat, pemerintah pusat, serta pimpinan partai politik, tanpa benar-benar memikirkan dampak kebijakan mereka.

“Mereka merasa telah menggenggam harapan publik hanya dengan sering muncul di media. Dari tahun ke tahun, harapan itu terus dibangun hingga akhir masa jabatan, meskipun realisasi program nyaris tidak ada,” katanya.

Menurutnya, strategi ini membuat sebagian besar masyarakat terhipnotis oleh pemberitaan yang masif, sehingga seolah-olah ada perubahan nyata, padahal banyak janji politik yang tak kunjung terwujud.

“Rakyat NTT tidak butuh slogan-slogan indah tanpa realisasi. Yang dibutuhkan adalah kebijakan nyata yang mampu meningkatkan kesejahteraan mereka,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.