DPRD NTT Kritik Pidato Setahun Kepemimpinan Melki-Johni, Soroti Kualitas SDM Pendidikan Masih Stagnan

oleh -438 Dilihat
Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Winston Rondo. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Anggota DPRD NTT, Winston Rondo, mengkritik pidato satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena–Johni Asadoma, yang dinilai belum menyentuh persoalan fundamental di sektor pendidikan, khususnya terkait rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kritik tersebut disampaikan Winston kepada awak media usai Rapat Paripurna penyampaian pidato satu tahun kepemimpinan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, di ruang sidang DPRD NTT pada Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, meskipun pidato gubernur memaparkan sejumlah capaian pembangunan selama satu tahun terakhir, namun belum memberikan perhatian serius terhadap peningkatan kualitas pendidikan di NTT yang hingga kini dinilai masih berjalan di tempat alias stagnan.

“Pidato gubernur sangat luar biasa, tetapi belum terlalu menyinggung soal SDM. Kompetensi siswa kita masih sangat lemah, terutama pada mata pelajaran dasar. Karena itu perlu memastikan proses pembelajaran berjalan baik di tahun kedua kepemimpinan gubernur dan wakil gubernur NTT,” ujar Winston.

Ia menegaskan, DPRD melalui Komisi V memiliki perhatian serius terhadap pengembangan SMA dan SMK di NTT yang berjumlah sekitar 1.028 sekolah dan menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Namun, dari delapan aspek standar mutu pendidikan, perhatian pemerintah dinilai masih lebih terfokus pada pembangunan fisik, seperti gedung sekolah.

Padahal, lanjutnya, persoalan utama pendidikan di NTT saat ini bukan terletak pada kekurangan infrastruktur, melainkan pada mutu pembelajaran yang sangat ditentukan oleh kualitas tenaga pendidik.

“Bidang pendidikan sebenarnya tidak kekurangan gedung. Yang menjadi perhatian saat ini adalah bagaimana meningkatkan mutu pembelajaran dengan memastikan guru memiliki kualifikasi yang baik, ada bimtek dan pelatihan, serta ketersediaan buku penunjang,” jelasnya.

Winston juga menyoroti penurunan signifikan anggaran pendidikan pada tahun 2026 yang bersumber dari dana transfer pusat ke daerah, yang diperkirakan berkurang hingga Rp300 miliar. Kondisi tersebut dinilai berdampak terhadap upaya peningkatan sarana dan prasarana pendidikan di daerah.

“Penurunan anggaran ini tentu sangat berdampak terhadap sektor pendidikan, baik dari sisi sarana maupun peningkatan kualitas pembelajaran,” katanya.

Ia pun mendorong agar pada tahun kedua kepemimpinan Melki–Johni yang disebut sebagai tahun percepatan, pemerintah provinsi benar-benar memprioritaskan peningkatan mutu pendidikan dengan menitikberatkan pada penguatan SDM.

Menurut Winston, pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan daerah, sehingga penguatan sektor ini harus menjadi prioritas sebelum mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Pendidikan adalah tungku utama. Kalau pendidikan tidak kuat, walaupun ekonomi kita maju, maka pembangunan tidak akan bergerak maksimal,” pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.