Suarantt.id, Kupang-Pemerintah Kota Kupang menunjukkan respons cepat dalam penanganan bencana angin kencang yang melanda Kelurahan Belo. Kurang dari 24 jam pascabencana, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, turun langsung menemui warga terdampak di RT 02 RW 08 Kelurahan Belo pada Sabtu (24/1/2026).
Angin kencang yang terjadi pada tengah malam sebelumnya menyebabkan kerusakan parah pada puluhan rumah warga. Tercatat sekitar 35 rumah mengalami kerusakan, termasuk satu rumah ibadat, yakni Gereja GMIT Yegar Sahaduta Belo. Selain kerusakan fisik, sejumlah warga juga mengalami luka akibat seng dan material bangunan yang beterbangan, bahkan beberapa di antaranya harus menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Dalam peninjauan tersebut, Wali Kota didampingi Anggota DPRD Provinsi NTT Filmon Loasana, Anggota DPRD Kota Kupang Ridla Neda Lalay, Luther Keny Sa’u, dan Muhammad Ramli, Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Kupang, Kepala Dinas Sosial Kota Kupang, Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang, Kasat Polisi Pamong Praja, Lurah Belo, serta perwakilan Dinas Sosial Provinsi NTT.
Kepada warga dan awak media di lokasi bencana, Wali Kota menegaskan bahwa kehadiran pemerintah merupakan bentuk tanggung jawab moral dan komitmen nyata untuk tidak membiarkan masyarakat menghadapi musibah sendirian.
“Kami datang untuk memastikan bahwa pemerintah hadir bersama warga. Rumah yang rusak, baik ringan, sedang, maupun berat, akan kami data dan dibantu sesuai ketentuan yang berlaku,” tegas Wali Kota.
Sebagai langkah awal penanganan darurat, Pemerintah Kota Kupang melalui BPBD dan Dinas Sosial telah menyalurkan bantuan kebutuhan dasar berupa beras, mi instan, dan terpal kepada warga terdampak. Bahkan, Wali Kota secara terbuka menawarkan rumah jabatan Wali Kota Kupang sebagai tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan parah dan kesulitan mendapatkan tempat menginap.
Perhatian khusus juga diberikan terhadap Gereja GMIT Yegar Sahaduta Belo yang mengalami kerusakan cukup serius. Wali Kota memastikan bantuan akan diberikan meskipun secara regulasi bantuan sosial keagamaan biasanya diberikan dalam rentang waktu tertentu.
“Ini adalah kondisi force majeure yang tidak kita perkirakan. Karena itu, pemerintah siap membantu agar gereja ini dapat segera diperbaiki dan kembali digunakan untuk kegiatan ibadah,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada kerusakan fisik, Wali Kota juga langsung mengambil langkah cepat bagi warga yang mengalami luka. Mengetahui adanya korban yang harus dirawat di rumah sakit namun belum memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan, Wali Kota segera menghubungi Kepala Dinas Kesehatan untuk mengurus kepesertaan BPJS bagi korban, guna meringankan beban biaya perawatan.
Usai meninjau lokasi bencana, Wali Kota Kupang juga menyempatkan diri menjenguk salah satu korban, Stefanus Kase, yang sedang menjalani perawatan di RS Boromeus Kupang. Sebelumnya, Wali Kota juga mengunjungi Ibu Olpi Tameon yang mengalami luka hingga patah kaki akibat bencana angin kencang tersebut.
Roy Tosi, orang tua Stefanus Kase, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian serta respons cepat yang ditunjukkan Pemerintah Kota Kupang.
“Kami sangat terbantu. Pemerintah hadir tepat saat kami benar-benar membutuhkan, terutama dalam membantu biaya perawatan anak kami,” ungkapnya.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua Majelis Jemaat GMIT Yegar Sahaduta Belo, Pdt. Selvy Asfes Zina. Ia mengapresiasi kehadiran langsung Wali Kota Kupang yang tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga memberikan penguatan dan penghiburan bagi jemaat yang terdampak.
Sementara itu, Lurah Belo, Robinson Emlimasir Lona menjelaskan bahwa berdasarkan data awal tercatat 35 rumah warga terdampak bencana. Namun, berdasarkan laporan lanjutan, jumlah tersebut bertambah menjadi 45 rumah.
Pihak kelurahan bersama instansi terkait akan segera melakukan verifikasi lanjutan sekaligus menyalurkan bantuan kepada seluruh warga terdampak. ***





