Gubernur NTT Dorong Sekolah Gratis, Perkenalkan Gagasan “One School One Product”

oleh -1350 Dilihat
Gubernur NTT Didampingi Kadis Pendidikan dan Kebudayaan di Acara Kegiatan Rekonsiliasi Dana BOSP Tahap I Tahun Anggaran 2025 dan Sisa Dana BOSP Tahun 2024. (Foto (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, memberikan apresiasi tinggi terhadap sejumlah sekolah di NTT yang telah menerapkan konsep “sekolah gratis” dengan pendekatan kemandirian dan inovasi. Ia menyebut praktik-praktik inspiratif ini layak menjadi contoh dan dibagikan ke satuan pendidikan lainnya di seluruh provinsi.

Beberapa sekolah yang mendapat sorotan antara lain:

  • SMKS St. Pius X Insana – Bitauni, yang menerapkan sistem bagi hasil dari unit usaha: 60 persen untuk siswa, 20 persen untuk sekolah, dan 20 persen untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).
  • SMKN 2 Loli, Sumba Barat, khususnya jurusan agribisnis, membagi hasil usaha dengan skema: 45 persen untuk siswa, 35 persen untuk pengelola, dan sisanya untuk APBD serta pengembangan modal usaha.
  • SMKN 1 Sabu Barat memberdayakan siswa melalui budidaya ikan lele. Keuntungan dari usaha tersebut digunakan untuk menunjang operasional sekolah.
  • SMKN Situmean, Malaka menyediakan pendidikan gratis total dengan mengandalkan ternak kambing dan ayam lokal sebagai sumber pendanaan mandiri.
  • SLB Asuhan Kasih Kupang fokus pada pelatihan keterampilan tata boga dan tata busana, di mana hasil produksi dijual guna membiayai sekolah dan asrama.

“Setiap sekolah punya karakter masing-masing. Tapi tujuan kita satu: menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan mampu menyejahterakan guru serta menunjang fasilitas belajar,” tegas Gubernur Melki.

Ia pun mengajak seluruh satuan pendidikan di NTT untuk mulai memikirkan produk unggulan masing-masing yang bisa menjadi sumber pendapatan sekaligus sarana pembelajaran. Untuk itu, Gubernur memperkenalkan konsep baru: One School One Product.

“Kalau kita punya Gerakan Beli NTT dan One Village One Product (OVOP), maka sekarang saatnya kita punya One School One Product. Kembangkan potensi unggulan sekolah masing-masing!” serunya.

BACA JUGA:  Gubernur NTT dan Menteri P2MI Bahas Perlindungan Pekerja Migran di Jakarta

Menurutnya, langkah-langkah kreatif dan inovatif dari sekolah-sekolah ini merupakan wujud nyata dari semangat kemandirian pendidikan di NTT. Ia berharap, semakin banyak sekolah akan mengikuti jejak serupa dan menciptakan model pembelajaran yang tidak hanya fokus pada akademik, tapi juga pada kewirausahaan dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.

Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi pendidikan di NTT menuju sistem yang berorientasi pada mutu, pemberdayaan, dan kemandirian. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.