Suarantt.id, Kupang-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Timur menegaskan dukungan penuh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat. Wakil Ketua DPRD NTT Fernando Jose Lemos Osorio Soares menilai, inisiatif ini merupakan strategi konkret “memerangi” stunting dan gizi buruk yang telah lama membayangi masa depan generasi NTT.
“Ini bukan hanya soal makan. Ini soal menyelamatkan masa depan anak‑anak NTT,” tegas Fernando seusai rapat paripurna di kantor DPRD NTT pada Selasa (29/7/25).
Bukti Intervensi Nyata
Fernando mengungkapkan, prevalensi stunting di NTT masih tergolong tinggi meski berbagai program penanganan gizi telah berjalan bertahun‑tahun. Ia menyebut MBG sebagai “angin segar” yang menyasar hulu–hilir permasalahan, khususnya di lingkungan sekolah.
Menurut data internal Badan Gizi Nasional, lanjutnya, hingga Senin (28/7) tercatat 135 ribu anak di NTT telah menerima manfaat MBG. “Program ini dievaluasi setiap hari. Kalau ada kendala di lapangan, harus langsung diperbaiki,” ujar Sekretaris DPW Gerindra NTT tersebut.
Penanganan Kasus Keracunan
Menanggapi insiden dugaan keracunan makanan yang terjadi di beberapa sekolah, DPRD telah memanggil Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Badan Gizi Nasional Perwakilan NTT. Fernando menjelaskan, pengujian sampel makanan masih berlangsung dan membutuhkan waktu.
“Badan POM menyatakan hasil laboratorium belum keluar karena prosesnya memakan waktu lama,” jelasnya.
Ia menekankan, operasional dapur MBG berada sepenuhnya di bawah Badan Gizi Nasional—bukan vendor swasta—dengan satu kepala satuan, seorang ahli gizi, seorang akuntan, dan 47 pegawai.
Komitmen Berkelanjutan
Fernando memastikan mayoritas anggota DPRD NTT menolak penghentian program meski ada masalah di lapangan. “Program mulia Bapak Presiden Prabowo harus berjalan lancar. Tugas kita mengawal agar juknis dipatuhi dan kesehatan siswa, ibu hamil, serta ibu menyusui terjamin,” tandasnya.
Program MBG merupakan janji utama Presiden Prabowo Subianto untuk menyediakan satu porsi makanan bergizi gratis setiap hari sekolah bagi peserta didik, ibu hamil, dan ibu menyusui di seluruh Indonesia. Di NTT—provinsi dengan karakter kepulauan dan tantangan logistik—program ini dipandang vital guna memutus siklus stunting yang, menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, masih berada di kisaran 20 persen. ***





