Merangkul Kebodohan

oleh -644 Dilihat
Eddy Ngganggus. (Foto Istimewa)


Oleh Eddy Ngganggus

Suarantt.id, Kupang-Inilah silsilah kebodohan. Kebodohan melahirkan kerusakan etik, lalu dari sana lahir empat anaknya: kerusakan hukum, kerusakan demokrasi, kerusakan sosial, dan kerusakan alam. Dari kerusakan hukum muncul kekacauan, kekacauan melahirkan kemiskinan, kemiskinan melahirkan kelaparan, dan kelaparan pun menghadirkan si kembar: penyakit dan kematian.

Dari kebodohan hingga kematian, ada lima generasi dengan gennya masing-masing. Tiap-tiap generasi memiliki jejaknya sendiri bukan dalam bentuk kesucian, melainkan dalam rupa kerusakan.

Tapi bukan untuk merawat atau memelihara kebodohan kita merangkulnya. Kita merangkulnya agar menjinakannya, agar ia tidak liar dan menebar lebih banyak kerusakan. Karena sepandai-pandainya si bodoh, dalam rangkulan yang kuat, integritasnya akan melengkung.

Kita harus meninggalkan kebodohan, tanpa perlu mengucapkan selamat tinggal. Sebab, hanya yang punya nilai tambah yang layak mendapat perpisahan yang terhormat. Bukankah kita tidak pernah mengucapkan selamat kepada orang yang apes, kecuali jika itu untuk mengejek?

Jangan menghukum orang benar


Mencari alasan untuk menghukumnya bisa dilakukan. Mencari pendukung untuk menyeretnya juga bukan perkara sulit. Bahkan, menyetel aparat penegak hukum agar turut menghakimi pun mungkin saja. Namun, menghentikan dampak kebaikannya? Itu mustahil. Raganya bisa jadi mayat, tapi kenangan baiknya tidak akan mati ia akan terus hidup dalam ingatan.

Menghukum orang benar itu seperti menebang pohon beringin dengan silet—ia mungkin terluka, tapi tak akan tumbang. Sebaliknya, memelihara orang jahat itu seperti memberi makan perampok. Setelah kenyang, ia akan merampok lagi. Mungkin kali ini, kamu yang menjadi korban.

Maka, sia-sialah menghukum orang baik, sebagaimana sia-sianya menampi tepung di bibir pantai. Tidak ada yang tersisa selain penampi kosong.

BACA JUGA:  Sabar adalah Ibu dari Rezeki

Berhentilah memukul dada dan berkoar-koar soal kemenangan


Prestasi melengkung tapi sesumbar tinggi. Kata-kata berlagak tegak, tapi kenyataan justru membelok. Sesumbar hanya jadi ilusi yang mengusik pendengar, lebih banyak berisik ketimbang dipuji.

Bagaimana bisa memberi contoh cara berdiri tegak kalau tubuh sendiri melengkung? Bagaimana mau terbang gagah seperti elang kalau pinggang sendiri selembut ubur-ubur?

Sesumbar adalah pintu masuk kebodohan. Mari kita rangkul kebodohan, bukan untuk mengagungkannya, tetapi agar ia jinak sebelum menjadi lebih liar dan membuat keadaan semakin amburadul.

Maksud hati memeluk si cerdas, apa daya si bodoh yang dirangkul.
Asa ingin menyanjung yang bijak, ternyata si bodoh yang malah berbangga.
Itulah yang disebut GR-Gede Rasa.

Kebodohan selalu menjadi pangkal krisis.
Tidak sengaja berbuat salah saja bisa tertangkap, apalagi yang sengaja.
Tapi kalau begitu, apakah si penangkap sudah benar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.