Menuju PON 2028, Winston Rondo Dorong Reformasi Total Pembinaan Olahraga NTT

oleh -414 Dilihat
Wakil Ketua Komisi V DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus Ketua Pengprov PBVSI NTT, Winston Rondo. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Wakil Ketua Komisi V DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sekaligus Ketua Pengprov PBVSI NTT, Winston Rondo, mendorong dilakukannya reformasi total sistem pembinaan olahraga di NTT sebagai langkah strategis menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

Hal tersebut disampaikan Winston saat menyampaikan serangkaian rekomendasi strategis kepada Ketua KONI NTT. Ia menegaskan bahwa NTT sejatinya tidak kekurangan atlet berbakat, namun selama ini masih lemah dari sisi sistem pembinaan yang terencana, terukur, dan berbasis ilmu pengetahuan olahraga.

“NTT punya banyak talenta. Yang kurang adalah sistem yang memastikan mereka tiba di PON dalam kondisi terbaik, bukan sekadar lolos seleksi,” tegas Winston.

Fokus dan Keberanian Menentukan Prioritas

Menurut Winston, KONI NTT perlu segera melakukan reformasi pembinaan dengan pendekatan berbasis prestasi. Salah satu langkah kunci yang direkomendasikannya adalah penetapan cabang olahraga (cabor) prioritas untuk PON 2028.
Ia menilai tidak semua cabor bisa diperlakukan sama. Diperlukan klasterisasi yang jelas antara cabor unggulan, cabor pengembangan, dan cabor partisipatif.

“Kita harus realistis dan fokus. Prestasi tidak lahir dari pemerataan semu, tetapi dari keberanian menentukan prioritas,” ujarnya.

Winston menyebut sejumlah cabor yang secara objektif memiliki peluang meraih prestasi di PON 2028, antara lain sepak bola, tinju, atletik, bola voli, serta berbagai cabang bela diri. Penetapan cabor prioritas tersebut, lanjutnya, harus diikuti dengan kebijakan pembinaan jangka pendek, menengah, dan panjang yang konsisten.

Pembinaan Berjenjang dan Sport Science

Lebih lanjut, Winston mendorong diterapkannya pembinaan berjenjang berbasis wilayah, dengan kabupaten/kota sebagai basis pencarian dan pembinaan awal atlet, sementara provinsi berperan sebagai pusat pematangan atlet menuju level nasional.

BACA JUGA:  Winston Rondo: Dewan Harus Dekat dengan Rakyat, Perjuangkan Hak dan Kesejahteraan Masyarakat NTT

Ia juga menekankan pentingnya penerapan IPTEK dan sport science sebagai instrumen wajib dalam pembinaan atlet, bukan sekadar pelengkap.

“Secara realitas, atlet NTT lahir dari alam dan kultur, bukan dari sistem canggih. Justru karena itu, sport science menjadi alat koreksi ketimpangan agar atlet kita tidak kalah oleh sistem modern daerah lain di PON 2028,” jelasnya.

Menurut Winston, sport science merupakan kebutuhan strategis agar prestasi olahraga NTT tidak bergantung pada kebetulan, melainkan menjadi hasil dari perencanaan yang matang dan berkelanjutan.

Penguatan Teknis Berbasis Data

Sebagai penguatan sistem, Winston merekomendasikan sejumlah langkah teknis yang dapat diterapkan secara bertahap. Di antaranya riset cabang unggulan daerah, kolaborasi antara perguruan tinggi, cabang olahraga, dan KONI, serta pengembangan sport science yang disesuaikan dengan kondisi tropis dan kepulauan NTT.

Dia juga menekankan pentingnya pembangunan database dan profil historis atlet NTT, penerapan tes awal dan monitoring performa atlet, pendampingan pelatih melalui coach lab sederhana, pencegahan cedera dan pemulihan atlet, penguatan nutrisi, serta kesehatan mental atlet.

Langkah lain yang diusulkan meliputi pengembangan layanan sport science mobile ke daerah, penyelenggaraan kompetisi reguler, analisis video teknik dan pertandingan, hingga evaluasi berkelanjutan menuju puncak performa atlet di PON 2028.

“Tanpa kompetisi reguler dan inovasi teknologi olahraga yang sesuai zamannya, jangan berharap prestasi. PBVSI NTT siap mendukung liga daerah dan regional sebagai bagian dari sistem pembinaan,” tegasnya.

Reformasi Tata Kelola dan Ekosistem Olahraga

Selain pembinaan teknis, Winston juga menyoroti pentingnya reformasi tata kelola olahraga di NTT. Ia menekankan perlunya transparansi dan keadilan anggaran, dengan penganggaran berbasis program dan output, bukan relasi personal.

Dia juga mendorong penguatan organisasi pengprov cabang olahraga melalui standar minimal, seperti administrasi yang tertib, database atlet yang akurat, serta kalender kompetisi yang jelas dan terukur.

BACA JUGA:  Tangani Masalah dari Dekat, Wali Kota Kupang Gelar Dialog Terbuka di Rumah Jabatan

Di sisi lain, Winston menilai kemitraan pendanaan alternatif melalui BUMD, program CSR, dan sektor swasta lokal perlu dioptimalkan. Event olahraga, menurutnya, juga harus dijadikan instrumen penggerak ekonomi daerah.

“Prestasi tidak lahir dari ruang gelap. Olahraga harus hidup di ruang publik, hadir di media, dan menjadi kebanggaan masyarakat. Dari ekosistem yang sehat itulah prestasi akan tumbuh,” pungkas Winston. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.