Sabar adalah Ibu dari Rezeki

oleh -1216 Dilihat
Eddy Ngganggus. (Foto Istimewa)

Oleh Eddy Ngganggus

Suarantt.id, Kupang-Orang benar yang dikhianati tidak akan kalah. Kebenaran akan membuktikan dirinya sendiri bahwa ia tidak salah. Mungkin pembuktiannya tidak terjadi sekarang, tetapi kelak. Mengapa tidak sekarang? Karena kebenaran itu sabar. Sabar menyadarkan yang salah untuk memperbaiki diri, sabar menunggu yang keliru kembali ke jalan yang benar, sabar hingga hati yang sombong menjadi rendah hati. Di saat yang sama, kebenaran juga melatih korban pengkhianatan untuk memiliki nilai-nilai keutamaan serupa.

Ibarat pisau bedah di tangan dokter, yang harus menyayat kulit pasien demi mengeluarkan penyakit. Luka itu memang perih, tetapi saat penyakit dikeluarkan dan luka itu sembuh, kesehatan yang sejati akan dinikmati. Dibutuhkan kesabaran untuk menahan sakit bersandar kepada IA (Tuhan) yang melihat segala sesuatu tanpa bisa ditipu, dengan mata-Nya yang lebih terang dan lebih tajam dari matahari. IA dekat, bahkan kini ada tidak jauh darimu.

Tengoklah kisah-kisah tokoh kemanusiaan dan spiritual besar: mereka akhirnya menang dari pengkhianatan berkat kesabaran mereka. Dari pengalaman mereka, saya menangkap pesan ini:
“Untuk mendapatkan apa yang kamu suka, pertama kamu harus sabar dengan apa yang kamu benci.”
Tidak semua hal bisa kita selesaikan sendiri. Untuk hal-hal di luar jangkauan kita, kita harus belajar sabar, bahkan belajar merelakannya.

Mungkin, akibat pengkhianatan, kita kehilangan banyak hal secara materi. Namun sering kali, lewat pengalaman pahit itu, kita justru memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga: sifat sabar.
Aku mencari materi, tapi yang kutemukan adalah kesabaran. Rupanya, sabar lebih berharga daripada sekadar materi.

Tere Liye pernah berkata,
“Siapapun yang sabar dan tekun akan mekar seperti bunga, akan indah seperti purnama, dan menakjubkan seperti kupu-kupu.”
Benar adanya: sabar adalah ibu dari rezeki termasuk rezeki materi.

BACA JUGA:  Air Keruh dalam Terowongan Waktu

Untukmu yang sedang mengalami ketidakadilan atau dikhianati, tetaplah bersabar. Kuasai amarahmu. Jangan biarkan marah berubah menjadi dendam, perkelahian, kejahatan, atau kriminalitas. Jika kamu mampu bersabar sebentar saja ketika amarah datang, maka kamu akan terhindar dari ribuan penyesalan di masa depan.
Sungguh, bersabar itu sulit. Namun lebih buruk lagi jika kita menyia-nyiakan pahala besar yang terkandung di dalamnya.

Tidak perlu berpikir untuk menyuap aparat penegak hukum agar membelamu. Gunakan uang itu untuk membela anak yatim, janda, orang jompo yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Karena kebenaran tidak pernah salah memilih kepada siapa ia akan berpihak ia berpihak kepada mereka yang sabar menunggu keadilan.

Sabar tidak mengenal batas. Bila ada batasnya, itu bukanlah sabar, melainkan keputusasaan.

Jangan cemas. Apa pun yang hilang darimu akibat pengkhianatan akan kembali lagi mungkin dalam bentuk yang jauh lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.